Diskusi Publik; Fakultas Syariah Menjalin Kerja Sama Dengan World Moslem Studies Center
Jember- Fakultas Syariah IAIN JEMBER kembali mengadakan diskusi public untuk kedua kalinya pada Jum’at, 25 oktober 2019 di Ruang VIP Fakultas Syariah. Peserta diskusi kali ini merupakan perwakilan mahasiswa S1, S2 hingga pada jajaran dosen. Diskusi yang bertemakan “Islam di Australia” ini merupakan rangkaian diskusi dari buku yang baru saja diadakan oleh Prof. Dr. M. Noor Harisudin M.Fil.I selaku dekan Fakultas Syariah IAIN Jember. Tema ini dipilih karena mengingat eksistensi agama Islam yang minoritas di Australia dan bagaimana tata cara Atau pengembangan praktek tentang islam sendiri di Australia. Narasumber yang Mengisi Diskusi Publik kali ini yaitu, Prof. Dr. M. Noor Harisudin, M.Fil.I (Director of World Moslem Studies Center)Selaku dekan Fakultas Syariah Sendir, Sofkhatin Khumaidah, M.Pd, M.Ed, Ph.D, (Flinders University) dan H. Moch. Imam Mahfudi, Ph.D ( University of Southern Queensland). Yang dimoderatori langsung oleh Basuki Kurniawan M.H.I., selaku Dosen Fakultas Syariah.
Mengawali Diskusi Publik Kali ini Menurut Prof. Haris selaku narasumber pertama beliau menceritakan telah berhasil mengunjungi 4 kota dalam 15 hari di Australia. Dalam pandangannya, meski negara liberal, Australia lebih dulu menerapkan Maqasidus Syari'ah daripada Indonesia. Misalnya pajak yang tinggi untuk orang kaya hingga 40 persen, denda yang tinggi pelanggaran lalu lintas, hukuman tegas dan keras bagi pelaku KDRT, dan kepedulian terhadap lingkungan hidup dengan larangan membunuh hewan dan tumbuhan. Pada kesempatan itu, juga dibagikan gratis 10 peserta yang datang pertama kali buku Prof Haris yang berjudul "Islam di Australia".
Dilanjut oleh penjelasan ibu Sofkhatin yang pernah tinggal langsung selama 8 tahun di Australia. Beliau menceritakan bahwa di Flinders University (tempat dimana beliau mencari ilmu) memiliki beberapa komunitas mahasiswa muslim Indonesia (Indonesian Moslem Communities) seperti MIIAS (Masyarakat Islam Indonesia di Australia Selatan) dan KIA (Kajian Islam Adelaide), Menurut ibu Sofkhatin negara Australia Sangat menghargai perbedaan di antara mereka, dikarenakan banyaknya golongan-golongan selain Ormas NU juga berkembang disana seperti golongan HTI, dimana perkemabangan HTI sangat membahayakan menurut beliau, baik dari ajaran yang diajarkan, maupun dari prinsip yang dianut oleh HTI itu sendiri.
Tidak mau ketinggalan bapak Imam Mahfudi juga menjelaskan bahwa Australia merupakan Negara yang dapat menerima orang yang mencari suaka (Refugee Friendly). Refugee yang pernah datang ke Australia diantaranya datang dari Negara Afganistan, Iraq dan lain-lain yang sebagian dari mereka menganut Islam Sunni. Beliau menekankan bahwa Australia merupakan negara yang multiculture dan multifaith. (Media Center/Nada &Wildan)




