DR. AKSIN WIJAYA, ALUMNI YANG KINI MENJADI DIREKTUR PASCA SARJANA IAIN PONOROGO
Hai sahabat Syariah, kembali lagi nich bersama Tim Media Center Fakultas Syariah IAIN Jember. Pada kesempatan kali ini, kami akan menyajikan profil alumni Fakultas Syariah yang keren dan hebat. Alumni ini kini menjadi Direktur Pasca Sarjana IAIN Ponorogo. Bagaimana liku-liku perjalanan hidupnya hingga akhirnya meraih posisi direktur Pasca Sarjana? Pasti seru ya. Mari kita simak baik-baik.
Namanya Dr. Aksin Wijaya. Ia biasa disebut dengan panggilan Cak Aksin. Aksin merupakan salah satu alumni angkatan pertama Jurusan Syariah (namanya saat itu bukan Fakultas, tapi jurusan) STAIN Jember tahun 2001. Dia lahir pada 1 Juli 1974 di Desa Cangkreng, Dusun Lang-langger, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep. Aksin yang merupakan anak terakhir dari lima bersaudara pasangan bapak Suja’i dan ibu Zainab itu kini bertempat tinggal di Jl. Brigjend Katamso, 64-C, RT-4, RW-3, Kadipaten, Babadan, Ponorogo, Jawa Timur. Aksin menikah dengan Rufiah Nur Hasan asal Lumajang yang juga teman sekelasnya. Keduanya menikah pada saat masih duduk di bangku kuliah semester 3 STAIN Jember.
Aksin Wijaya memiliki gaya hidup yang sangat sederhana. Namun di balik kesederhanaannya, ia merupakan sosok organisatoris yang tangguh. Hal ini bisa dilihat dari napak tilas sejarahnya ketika ia masih aktif berorganisasi di tempat pendidikannya dulu. Waktu itu, tercatat ia aktif di beberapa organissai seperti Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Palang Merah Remaja (PMR), Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Universitas Jember dan Unit Kegiatan Pengembangan Keilmuan (UKPK) STAIN Jember. Selain itu, dia juga pernah aktif di Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM), sebelum akhirnya memutuskan untuk mengabdi di organisasi Islam terbesar di Indonesia yaitu di Nahdlatul Ulama (NU).
Lebih dari itu, Aksin merupakan pendiri PMII Rayon Syariah Komisariat IAIN Jember. Sebelum menjadi mahasiswa di Universitas Islam Jember (UIJ) dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jember, ia telah banyak mengalami lika-liku di kehidupan, mulai dari menjadi satpam (security), merantau ke Surabaya dan bekerja di sebuah home industri sepatu. Ia juga pernah mengajar di yayasan yatim piatu di Sawojajar Malang, mengajar di PP Al-Irsyad Bondowoso hingga akhirnya kembali ke Jember lagi sebagai penunggu kantor NU.
Pada saat menempuh kuliah di STAIN Jember, Aksin pernah menjabat sebagai wakil Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) STAIN Jember dan mendirikan beberapa Organisasi Mahasiswa (Ormawa) seperti Unit Kegiatan Pengembangan Keilmuan (UKPK) STAIN Jember. Pemikiran Aksin kadang dikenal nakal dan aneh, bahkan sering kali disebut sesat oleh dosen pengajarnya kala itu. Hal itu disebabkan karena ia sering membaca buku-buku kritis baik pemikiran para tokoh barat klasik, modern dan post-modern, pemikiran tokoh muslim timur tengah seperti Hasan Hanafi, Muhammad Abid al-Jabiri, Nasr Hamid Abu Zayd, Muhammad Arkoun, Abdul Karim Soros, hingga pemikiran para tokoh muslim di Indonesia, seperti Gus Dur, Masdar Farid Mas’udi, Nurcholish Madjid, Johan Efendi, dan Munawir Sadzali.
Tidak puas dengan hanya kuliah di UIJ dan STAIN Jember, pada tahun 2001 Aksin melajutkan studi magisternya di kota gudeg, Yogyakarta. Tepatnya di Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga (sekarang dikenal dengan UIN Sunan Kalijaga). Aksin mengambil S2 Pasca Sarjana Jurusan Filsafat Islam. Aksin lalu masih melanjutkan program Doktor (S3) di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun (2004-2008).
Selain tetap melanjutkan studi S3, pada tahun 2005 dia resmi diangkat menjadi dosen Fakultas Ushuluddin STAIN PONOROGO. Pengalaman yang didapat waktu kuliah S1 dan S2 membuat dia terus menekuni apa yang didapatkan selama ini, termasuk tetap semangat dan tekad yang kuat dia berhasil menyelesaikan studi S3 nya dengan nilai Cumlaude di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Praktis, dia menjadi Doktor yang ke-200 di UIN Sunan Kalijaga.
”Jangan pernah malu menjadi lulusan STAIN, IAIN, maupun UIN, karena disana kita diajari untuk selalu berfikir kritis dalam melihat apapun”, ungkapnya pada tim Media Center.
Pada tahun 2015, Aksin diangkat menjadi kepala P3M (Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) STAIN Ponorogo. Meskipun dia menjadi kepala P3M, dia tetap rendah hati terhadap apa yang dia miliki saat itu. Pihak kampus menilai pengalaman dan progres saat menjadi ketua pada lembaga itu membuat Aksin Wijaya memiliki jiwa kepemimpinan dan memberikan perubahan yang sangat bagus. Ia menjalankan sebuah amanah besar menjadi ketua P3M selama 3 tahun sampai 2017 sehingga pada tahun tersebut (2017), dia dipercaya memegang sebuah jabatan yang lebih tinggi, yaitu menjadi Direktur Pasca Sarjana IAIN Ponorogo. Jabatan yang diperoleh berkat keuletan dan tekadnya semenjak muda Aksin dijalankan dengan baik hingga sekarang.
Kepada adik-adiknya yang kuliah di STAIN, IAIN maupun UIN, Aksin mewanti-wanti agar untuk tidak hanya kuliah saja, tapi dia menghimbau agar mereka juga menulis. ”Buatlah diri anda menjadi ada, untuk menjadi ada, anda harus membaca. Dan jangan biarkan hasil bacaan itu hanya bertengger di kepala anda, tulislah hasil bacaan itu, karena tulisan itu tidak hanya melampaui umur penulisnya, tetapi juga membuat penulisnya ada”, ungkap pria yang sering memakai blangkon tersebut.
Dengan rentetan perjalanan yang cukup panjang itu, ayah dari lima anak ini masih terus aktif menulis beberapa karya-karya ilmiah seperti buku, jurnal, dan lain-lain. Beberapa buku misalnya Mengguggat Autentisitas Wahyu Tuhan, Dari Membela Tuhan ke Membela Manusia, Kontestasi Merebut Kebenaran Islam di Indonesia, dan masih banyak lagi. Kini, Aksin telah sukses memetik perjalanan pahit yang sudah berhasil dia lewati, meski ia sadar: perjalanan panjang karir dan intelektualnya tidak akan pernah berhenti.
Itulah sekilas profil dari salah satu alumni Fakultas Syariah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jember yang saat ini telah berganti menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember. Doakan ya teman-teman semuanya, khususnya keluarga besar Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember agar kampus kita tercinta kita bisa lebih cepat berganti menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Jember. Karena dukungan serta doa dari sahabat-sahabat sangatlah berarti bagi kita semua.
Reporter: Wildan Rofikil Anwar
Editor: M. Irwan Z




