FARIDATUS SUHADAK, DARI ASDOS HINGGA KETUA UNIT BK2S UIN MALANG
Menyandang status angkatan pertama (first generation) dalam suatu program studi di bangku perkuliahan memiliki kesan tersendiri. Dalam konteks tersebut ada dua persepsi secara umum. Pertama, angkatan pertama akan selalu dianggap sebagai pencipta sejarah dalam runtutan waktu. Kedua, ada stigma negatif bahwa dijadikan stimulus atau percobaan (guinea pig).
Keadaan tersebut dirasakan langsung oleh salah satu alumni Fakultas Syariah IAIN Jember yakni Ibu Faridatus Suhadak. Beliau menjadi mahasiswa angkatan pertama di Program Studi Ahwalus Syakhsiyah (baca: Hukum Keluarga) Fakultas Syariah STAIN Jember. Ibu Farida sapaan akrabnya sebelum memilih Prodi Ahwalus Syakhsiyah berada dalam posisi pilihan yang berat. Karena pada tahun tersebut merupakan masa transisi Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Jember menjadi STAIN Jember. Tentu dalam benak pikirannya setiap hal yang baru pasti akan ada trial and error.
“Pada saat itu angkatan saya jumlahnya 30 orang akan tetapi pada akhirnya yang bertahan hingga lulus sekitar 27 mahasiswa. Ya mungkin karena faktor SDM pengajar yang rata-rata notabenenya ahli di bidang tarbiyah” ujar beliau saat dihubungi oleh Tim Media Center.
Bergelut dengan pesimisme ialah hal yang sangat manusiawi. Tetapi keluar dari rasa pesimisme menuju optimisme ialah perintah Allah SWT. Sebagaimana dalam Al-qur’an Surat At Taubah ayat 105 yang artinya “Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasul Nya serta orang orang mukmin akan melihat pekerjaan mu itu dan kamu akan dikembalikan kepada Allah lalu diberitakan kepada Nya apa yang telah kamu kerjakan”.
Tetapi seiring berjalannya waktu, ketika menginjak semester 4 akhir dan menuju ke semester 5 ialah momen untuk menemukan bidang konsentrasi keprodian. Pada semester tersebut mulai terbangun organisasi intra berbasis prodi serta didukung banyak dosen muda yang memumpuni pada bidang hukum keluarga. Selain itu, Fakultas Syariah juga membangun banyak jejaring dengan kampus lain untuk dapat berinteraksi sesama mahasiswa Prodi Ahwalus Syakhsiyah. Hal tersebut tentunya menjadi daya pemicu bagi teman angkatan Ibu Farida agar saling memberikan semangat dan menjaga solidaritas tinggi.
Berangkat dari banyak dukungan oleh kaprodi, dosen, dan praktisi menjadikan dirinya untuk lebih menekuni bidang Al ahwal Al syakhsiyah. Sosok yang lahir di Lumajang ini juga pernah bercita-cita menjadi hakim perempuan pada saat itu. Setelah lulus dari STAIN Jember beliau melanjutkan program magister S2 ke IAIN Sunan Ampel Surabaya (sekarang: UIN Sunan Ampel) dengan keilmuan yang linear. Pada saat menempuh program S2 di IAIN Sunan Ampel beliau lebih banyak bergelut dalam kegiatan akademik.
Tak lama kemudian, setelah lulus dari program magister beliau mengajar di STAIN Jember mulai tahun 2006 sampai 2008. “Saya senang sekali bisa bergabung dan mengabdi di almamater tercinta. Walaupun hanya 7 semester, tetapi banyak pengalaman yang saya dapatkan. Di situ juga saya banyak belajar dari para dosen yang akhirnya menjadi kolega”, ujar beliau.
Akhirnya pada akhir 2008 Ibu Farida mengikuti tes rekrutmen dosen di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dengan niat yang tulus dan usaha yang maksimal atas rida Allah SWT beliau diterima sebagai dosen. Pada tahun 2009 beliau menempati kantor di Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dengan berbekal pengalaman dosen di STAIN Jember, berinteraksi dengan orang-orang baru, lingkungan baru dan lembaga yang besar harus beradaptasi dengan cepat. Banyak posisi sudah pernah beliau lalui mulai dari asisten dosen hingga menjadi admin.
Selama berkarier di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang beliau banyak sekali menorehkan karya-karya penelitian ilmiah baik di skala dalam maupun luar negeri. Selain dalam ranah penelitian scientific writing beliau juga sering diundang menjadi narasumber di beberapa acara seminar dan workshop. Pada tahun 2017 beliau mendapatkan kesempatan berkunjung ke luar negeri tepatnya UiTM Melaka.
Saat ini beliau menjabat sebagai Ketua Unit BK2S (Bimbingan dan Konseling Keluarga Sakinah). Banyak sekali pengalaman yang beliau dapatkan selama menunjang kariernya.
“IAIN Jember saat ini sangat cepat sekali progresnya. Banyaknya inovasi dan jejaring serta tenaga muda di dalamnya memungkinkan untuk terbuka dengan hal-hal yang bersifat kebaruan. Semoga tetap terjaga semangat akademisi sejati, menjadi pusat pengembangan ilmu kesyariahan dari ujung timur pulau Jawa”, pesan dan kesan beliau di akhir wawancara kepada Tim Media Center.
Penulis : Moh. Abd. Rauf
Editor: M. Irwan Z.




