syariah@uinkhas.ac.id -

HALAL BIHALAL INTERNASIONAL, DEKAN SYARIAH SEBUT LIVING RELIGION POTRET IDUL FITRI EMPAT BENUA

Home >Berita >HALAL BIHALAL INTERNASIONAL, DEKAN SYARIAH SEBUT LIVING RELIGION POTRET IDUL FITRI EMPAT BENUA
Diposting : Selasa, 02 Jun 2020, 09:29:44 | Dilihat : 638 kali
HALAL BIHALAL INTERNASIONAL, DEKAN SYARIAH SEBUT LIVING RELIGION POTRET IDUL FITRI EMPAT BENUA


Bekasi – Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Jember dan World Moslem Studies Center (WOMESTER) Bekasi menggelar silaturahmi dan halal bihalal internasional yang bertajuk "Potret Hari Raya Idul Fitri Berbagai Negara Dunia Di Tengah Pandemi Covid-19", Minggu, 31 Mei 2020 mulai jam 15.30 WIB hingga 18.00 WIB

Kegiatan ini melibatkan narasumber dari berbagai negara dan empat benua (Eropa, Australia Afrika dan Asia). Mereka adalah Rois Syuriah PCI NU Belanda KH. Nur Hasyim Subadi, mahasiswa Ph.D Flinders University yang juga Wakil Katib Syuriyah PCI NU Australia-New Zealand Sabilil Muttaqin, Direktur World Moslem Studies Center Prof. Dr. Kiai M. Noor Harisudin, M. Fil.I., Wakil Katib Syuriah PCI NU Mesir H. Ali Irham, Ketua Fatayat PCI NU Taiwan Tarnia Tari dan Public Relation PCI NU Malaysia Muhammad Taufiq, Ph.D.

Kegiatan tersebut juga diikuti oleh Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (Ketum PB PMII) Agus Mulyono Herlambang. Dalam kesempatan itu, ia mengaku sangat mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh PC PMII Jember, ia menegaskan bahwa kegiatan seperti ini telah melanjutkan apa yang telah dilakukan para pendahulu atau sesepuh dari tokoh Nahdlatul Ulama (NU) seperti KH. Hasyim Hasyim Asyari.

“Kita sudah lupa bahwa apa yang seharusnya juga kita lakukan sebagai generasi penerus kaum nahdliyin, yaitu melakukan pergaulan dengan dunia internasional. Hal semacam ini sudah dilakukan oleh ulama kita seperti KH Hasyim Asyari dalam mengembangkan pengetahuan agama Islam. Sudah banyak buku-buku yang mencatatnya bahwa beliau-beliau para sesepuh telah melakukan dan membuka komunikasi dan diskusi bersama para tokoh-tokoh lintas negara. Jadi apa yang dilakukan oleh sahabat-sahabat ini telah membuka dimensi dan cakrawala kita terhadap apa yang telah dilakukan oleh pendahulu kita,” ujarnya.

Kegiatan silaturahmi internasional tersebut diadakan pada hari Minggu, 31 Mei 2020. Sekertaris PC PMII Jember Mohammad Faqih Alharamain yang juga moderator pada acara tersebut mengatakan kegiatan seperti ini merawat tradisi para pendahulu kita dengan melalui silaturahmi dan halal bihalal.

“Kegiatan silaturahmi dan halal bihalal merupakan bentuk implementasi dari Nilai Dasar Pergerakan (NDP) yaitu Hablum Minannas (hubungan antar sesama manusia) berupa menghargai, ‘tepo sliro’, dan saling memaafkan satu sama lain. Hal ini juga selaras dengan visi rahmatan lil `alamin yang diperjuangkan oleh Nahdlatul Ulama (NU) di berbagai negara,” katanya.

Rois Syuriah PCI NU Belanda, KH. Nur Hasyim Subadi menilai dalam konteks Belanda, sampai saat ini dirinya merasa nyaman dengan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah belanda, “Di Belanda jumlah kasus positif tercatat kurang lebih 46.422 orang. Saya merasa nyaman dengan kebijakan pemerintah belanda saat ini. InsyaAllah sudah ada beberapa kelonggaran yang akan dilakukan oleh pemerintah, sehingga beberapa sekolah akan diaktifkan kembali dengan mematuhi protokol kesehatan, ” ujar Kiai yang alumni Mesir tersebut.

“Di Belanda kami masuk komunitas diaspora muslim Indonesia. Komunitas tersebut bernama PPME (Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa) yang didirikan oleg Gus Dur pada 12 April 1971. Saat ini komunitas tersebut tidak aktif seperti biasanya lantaran ada pandemi ini, namun hikmahnya kita bisa melakukan dakwah secara online dan menjadikan media sebagai pusat perhatian dalam berdakwah di negara Belanda,” tambahnya.

Dalam pelaksanaan hari raya Idul Fitri di Australia khususnya wilayah Adelaide, mahasiswa Ph.D Flinders University Australia-New Zealand Sabilil Muttaqin, mengaku lebaran di Adelaide kali ini tetap spesial walaupun dunia sedang menghadapi pandemi global. Kegiatan keagamaan dan lainnya saat ini sudah mulai dilaksanakan seperti biasanya, “Saat ini Adelaide alhamdulillah termasuk negara yang zero cases, dengan kebijakan pemerintah yang cepat dan telah lama melakukan persiapan ditambah warganya yang patuh, menjadikannya negara yang zero cases, artinya tidak ada kasus positif Covid-19 di negara ini. Kemungkinan di bulan Juni cafe dan catering food akan kembali dibuka dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan,” tuturnya.

“Pelaksanaan keagaaman seperti hari raya Idul Fitri kemarin kita lakukan dengan peraturan yang ditetapkan pemerintah, ada beberapa masjid yang model pengorganisasianya di absen. Jadi jamaah yang akan melaksanakan ibadah harus register terlebih dahulu kepada imamnya. Ada tiga masjid yang boleh ditempati untuk beraktifitas, meskipun sebagian besar masjid masih ditutup. Setiap masjid hanya 10 orang yang diperbolehkan untuk beraktifitas didalamnya,” imbuhnya.

Direktur World Moslem Studies Center Prof. Dr. Kiai M. Noor Harisudin, M. Fil.I., manyampaikan bahwa dalam keadaan serba ketidakpastian ini justru kita dapat menikmati Network Based Civilization (peradaban berbasis jaringan). Semuanya tetap dapat bersilaturahmi meski dari berbagai benua.

“Covid-19 disisi lain juga mempercepat kita dalam melakukan Network Based Civilization, kita bisa tetap bersilaturahmi dan berdiskusi bersama meski dari tempat yang berbeda. Dengan ini kita mengerti, bahwa ada keber-islaman yang hidup (living religion) di empat benua seperti perwakilan nara sumber acara ini, dan ini juga muncul pada saat kondisi pandemi ini, sehingga ini menjadi menarik untuk kita teliti. Bagaimana saudara muslim di berbagai negara dalam berinteraksi dengan pemerintah setempat. Dalam banyak hal ada yang sama dan beberapa hal yang berbeda. Akhirnya kita tetap menjalani kehidupan dengan nyaman karena life is journey not a destination (kehidupan adalah sebuah perjalanan bukan sebuah tujuan),” ujar Prof. Kiai Haris yang juga merupakan pengasuh PP. Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember.

“Kedua, Ada fiqih al-aqalliyyat.Saya ingat pertanyaan seorang PMI (pekerja migran Indonesia) ketika di Taipe, ibu kota Taiwan tahun 2018 yang silam: Kiai, bagaimana hukumnya saya tidak sholat Jum’at? Bagaimana hukum sholat saya; saya bekerja di Peternakan Babi. Di Australia, tahun 2019 ada pertanyaan menarik; Prof, bagaimana hukum orang pakai mashul khuffain? Opera House di Sydney; orang Islam susah wudlu. Kaki dilarang masuk westafel. Ketika pengajian di Masjid Westall Melbourne, seorang ibu-ibu bertanya: Bagaimana hukum anaknya yang menjadi tentara di Australia, tidak bisa sholat lima waktu karena kondisi yang tidak memungkinkan. Dalam kondisi pandemi Covid-19, Fiqh al-Aqalliyat pasti akan ada banyak kemurahan dan rukhsah daripada hari-hari biasanya”

imbuh Guru Besar termuda yang juga Sekretaris Forum Dekan Fakultas Syariah dan Hukum PTKIN Seluruh Indonesia.

Di Mesir, Wakil Katib Syuriyah PCI NU Mesir, KH. Ali Irham menyampaikan bahwa sudah sejak ada Covid-19, masjid ditutup oleh pemerintah. Hingga saat ini, masih belum ada kebijakan baru terkait penutupan masjid. Sehingga, tahun ini, praktis tidak ada shalat Idul Fitri berjama’ah di Masjid dan lapangan yang melibatkan warga dalam berjumlah besar. KBRI sendiri tidak mengadakan sholat Idul fitri berjamaah dan juga tidak menyelenggarakan halal bi halal. “ Perlu saya sampaikan, kalau imam dan bilal di Mesir itu semua ditanggung negara, di bawah kementrian wakaf. Gampangnya, mereka ini adalah pegawai negeri yang diangkat untuk masjid-masjid di Mesir”, ujar KH Ali Irham.

Namun demikian, KH. Ali Irham bersyukur karena sebelumnya PCI NU Mesir sudah ikhtiar mendapatkan kantor yang bias menjadi wadah kader-kader NU Indonesia.

“Alhamdulillah, kemarin kita lunasi Kantor PCI NU Mesir dua lantai. Lantai satu untuk kantor PCI NU. Lantai dua untuk kantor Fatayat dan home stay. Mohon doanya semoga berkah. Dan yang mau mampir silahka ke kantor PCI NU Mesir”, ujar KH. Ali Irham.

Sedangkan di Taiwan, Ketua Fatayat PCI NU Taiwan, Tarnia Tari dalam melaksanakan sholat Idul Fitri dilakukan dengan sistem bergelombang, “Kami disini tetap senang dalam menjalankan sholat Idul Fitri. Alhamdulillah kami berhasil mendapatkan ijin dari pemerintah setempat untuk bisa melakukan hari raya di tengah pandemi dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Sholat Idul Fitri dilaksanakan secara bergelombang atau bergantian artinya pelaksanaanya tidak dijadikan satu dalam satu waktu. Dalam satu gelombang ada sekitar 500 jamaah yang hadir, yang awalnya kami kisar akan ada lima gelombang ternyata bisa sampai enam gelombang, sehingga ada sekitar 3000 jamaah yang ikut melaksanakan sholat Ied meski secara bergantian. Hal ini menunjukan tetap semangatnya para umat muslim untuk melakukan ibadah meski di tengah pandemi dan sebagai kaum minoritas di Taiwan,” tuturnya.

Disisi lain Public Relation PCI NU Malaysia Muhammad Taufiq, Ph.D menyampaikan kegiatan sholat Idul Fitri di Malaysia khususnya di masjid hanya dilakukan oleh takmir dan pengurus masjidnya.

“Masyarakat biasa tidak diperbolehkan untuk melaksanakan sholat idul fitri di masjid, yang diperbolehkan hanya para pengurus masjidnya. Dan alhamdulillah kami disini sudah proses mendirikan pesantren yang dikelola langsung oleh warga Indonesia, teman-teman semua nanti bisa silaturahmi kesini,” tuturnya.

Elok Lailatul Qadriyah salah satu peserta dari Universitas Jember mengaku sangat senang dengan adanya acara ini, ia berharap kegiatan ini bisa dikembangkan dan dilanjutkan kembali di tahun berikutnya.

“Sungguh acara yang luar biasa, kegiatan ini memberikan saya banyak pengetahuan tentang perkembangan Islam di berbagai dunia khususnya ke lima negara ini. Terutama perkembangan budaya dan perayaan Idul Fitri di tengah pandemi ini,” ujarnya dengan bahagia.

Kegiatan ini dilakukan secara online melalui aplikasi zoom, acara berjalan lancar dengan membuka ruang interaksi antara peserta dan narasumber. Kegiatan ini diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai kalangan mulai mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, dosen, advokat, hakim, pengusaha, pengurus NU, dan peserta dari luar negeri seperti dari Malaysia, Mesir, Adelaide-Australia, dan Taiwan. Acara ditutup doa oleh Prof. Dr. Tuan Guru Masnun Thahir, MA, Ketua Tanfidziyah PWNU Nusa Tenggara Barat yang juga Wakil Rektor I UIN Mataram.

 

Reporter : M. Irwan Z.

Editor: M. Abd. Rauf

Berita Terbaru

Rukyatul Hilal 1 Syawal 1447 H di Pantai Puger: Sinergi Fasya UIN Khas Jember dan Kemenag Jember Tentukan Awal Idulfitri
20 Mar 2026By syariah
Komunitas Peradilan Semu Fakultas Syariah UIN KHAS Jember Resmi Terima Anggota Baru 2026
19 Mar 2026By syariah
PUSHAGA Fakultas Syariah UIN KHAS Jember Gelar Bagi Takjil dan Sosialisasi PMB di Alun-Alun Jember
13 Mar 2026By syariah

Agenda

Informasi Terbaru

Belum ada Informasi Terbaru
;