MANSUR, DARI KETERBATASAN HINGGA MENJADI ANGGOTA DEWAN
Fakultas Syariah seakan-akan tidak memiliki batas kuota (unlimited) jika berbicara kesuksesan Alumninya. Hal ini terbukti dengan banyaknya alumni Fakultas Syariah sukses dalam bidang yang digelutinya. Berbicara Fakultas Syariah atau Kampus PTKIN pada umumnya acap kali mengalami diskriminasi dalam bidang akademik dan lainnya. Banyak opini liar yang memarginalkan para Mahasiswa dan Alumni PTKIN, padahal dalam dunia perkuliahan tidak melulu mata kuliah yang diberikan akan menjadi acuan aset ilmu yang dimiliki. Seorang Mahasiswa haruslah bisa mengembangkan keilmuannya diluar bangku kuliah yang berbatas waktu.
Kembali pada topik, kali ini giliran alumni kelahiran kota tape Bondowoso tepatnya pada tanggal 04 April 1975 ini bernama Ahmad Mansur atau lengkapnya Ahmad Mansur, S.H.I., M.H. yang membuktikan bahwa dirinya layak menjadi orang sukses. Alumni yang satu ini memberikan banyak kontribusi terhadap kampus maupun masyarakat secara luas. ketika berkuliah di STAIN Jember (sekarang IAIN Jember) beliau adalah sosok yang giat dan penuh semangat dalam menjalankan perkuliahan maupun dalam organisasi yang digelutinya.
Kiprah Mansur hingga sampai saat ini, merupakan hasil ketekunan belajar dan perjuangan yang tidak ada habisnya. Singkat cerita riwayat pendidikan beliau yakni, Mansur adalah seorang santri di Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, kemudian melanjutnya program sarjananya di Fakultas Syariah IAIN Jember, program magisternya ditempuh di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya dan juga menempuh Pendidikan Profesi advokat di Jember. Dalam lingkup organisasi maupun partai seorang Mansur banyak memegang peranan penting di dalamnya. Misalnya, Ketua DPC APSI Jember, Ketua Pemuda Pancasila, Wakil Ketua Fraksi PKB Kabupaten Bondowoso dan masih banyak lagi.
Kesuksesan seseorang tidaklah mudah seperti yang dilihat, banyak yang tidak mengetahui proses seseorang dalam meraih impiannya. Bercermin pada seorang Mansur, yang ketika berkuliah tak semulus yang dibayangkan. Keterbatasan biaya, bahkan kehilangan sosok bapak ketika semester pertama bukanlah hal yang mudah untuk dilalui. Bukan tidak pernah mengeluh dalam dadanya. Tapi, hati seorang Mansur kuat karena dukungan dari orang tua dan para guru yang menguatkan mentalnya. Terlalu banyak kata untuk menuliskan sosok seorang Mansur, singkatnya sosok Mansur adalah sosok yang optimis akan dirinya dengan segala keterbatasan finansial yang ada. "Saya sejak dari awal kuliah memang biaya sendiri. Kemudian, orang tua laki-laki saya meninggal, sehingga waktu itu Saya sudah mau berhenti tapi waktu itu guru-guru memberi saya motivasi" ungkapnya.
Mansur juga bercerita bahwa, kesuksesan yang beliau rasakan saat ini merupakan adanya support dari orang tua dan para guru atau dosen ketika berkuliah. Ketika kuliah, Mansur banyak mengenal dan akrab dengan dosen-dosen. Sehingga, Mansur mendapat dukungan yang khusus dalam dirinya. “Jadi dekat dengan beberapa dosen, di kampus itu ada bapak almarhum Syaifuddin kepala jurusan saya, kita dekat jadi banyak pengalaman yang bisa kita ambil dan memang dari awal dipupuk untuk kritis” ungkapnya.
Ketika Mahasiswa, Mansur adalah mahasiswa yang aktif berorganisasi. "Setiap ada acara panitia ini ikut, calon ketua ini ikut" ungkapnya. Jadi tidak ada kesuksesan yang hanya dilakukan dengan "rebahan". Perlu banyak usaha yang istiqomah agar cita-cita yang diinginkan tercapai. Perlu diketahui bersama, bahwa Mansur merupakan lulusan terbaik kala itu. Keterbatasan biaya bukan menjadi alasan bagi beliau. Aktivitas yang sangat menguras waktu, mulai dari bekerja, kuliah, organisasi dan aktivitas lainnya. Butuh manajemen waktu yang baik dan seorang Mansur bisa melakukan hal tersebut dengan baik.
Mansur juga menekankan untuk mahasiswa adalah harus punya tujuan yang kuat, kemandirian, tekad, kesungguhan dalam belajar maupun diorganisasi. “Saya aktivis, dulu ada pesan dari senior saya. Mansur kalau kamu jadi aktivis jangan seperti lilin yang menerangi tapi juga bisa membakar. Jika kamu memotivasi, kamu harus lebih dari itu” ungkapnya.
Mansur yang dulu bukanlah Mansur yang sekarang, Dulu Mahasiswa sekarang seorang dewan. Ya, Mansur sekarang telah menjadi wakil rakyat. Tepatnya menjadi Wakil Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Bondowoso. “Apa yang saya rasakan hari ini adalah merupakan perjuangan yang tidak mudah dan itu menjadi hal yang istemewa hari ini bagi saya karena ini adalah hasil perjuangan” lugasnya.
Dengan semangat yang sama ketika masih menjadi mahasiswa, seorang mansur yang terkenal adalah aktivis kampus yang selalu mengawal kebijakan kampus maupun masyarakat umum. kini tugasnya pun selaras dengan perjuangannya dulu, yakni untuk kepentingan masyarakat umum. Patut dicatat, kiprah Mansur sebelum menjadi wakil ketua Komisi II DPRD Bondowoso adalah pernah menjadi salah satu tenaga pengajar di IAIN Jember dan juga seorang Advokat.
Banyak hal yang dapat kita teladani dari seorang Mansur, jalan yang tak mulus ketika menempuh pendidikan dengan segala keterbatasan yang ada tidak menyurutkan semangatnya untuk menjadi seseorang yang patut diperhitungkan dimasa kini. Prinsip utama yang ada pada diri Mansur adalah kebermanfaatan dalam setiap pekerjaannya. “Artinya keberadaan saya bisa bermanfaat untuk orang lain dalam hal apapun. Walaupun hal kecil, mungkin menurut kita kecil tapi bagi orang lain bisa jadi adalah hal besar” ujarnya.
Mansur berpesan untuk mahasiswa yang masih aktif menempuh pendidikan di Fakultas Syariah IAIN Jember, “Kesempatan tidak akan datang dua kali, lakukan yang terbaik. Ikuti segala peluang untuk mengembangkan potensi diri, apalagi fasilitas yang sekarang saya rasa sudah lebih lengkap untuk mendukung perkembangan kreativitas Mahasiswa”. Mahasiwa Fakultas Syariah pada khususnya kini haruslah bisa termotivasi dari kisah inspiratif dari seorang Mansur yang dengan segala keterbatasan biaya, kehilangan sosok ayah, bekerja saat kuliah bisa menjadi seorang yang sukses meniti karir hingga kini.
Tidak ada alasan bagi mahasiswa kini untuk bermalas-malasan apalagi denga isu Revolusi Industri 4.0 dan Indonesia Emas yang selalu digaungkan. Persaingan kompetensi akan semakin sengit, mahasiswa Fakultas Syariah diharap menjadi penerus bangsa yang dapat memajukan negeri ini.
Tak tanggung-tanggung demi menciptakan mahasiswa yang berkualitas, Fakultas Syariah selalu mengupayakan yang terbaik untuk Mahasiswanya. Misalnya, mengadakan acara Seminar, Forum Discussion Group (FGD), Workshop, juga sarana penunjang seperti laboratorium sidang semu, keastronomian Islam dan lainnya. Bahkan, dalam lingkup alumni Fakultas Syariah memiliki beberapa wadah untuk menunjang karir alumninya, seperti LKBHI (Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Islam) dan APSI (Asosiasi Pengacara Syariah Indonesia) Jember yang lahir dari rahim Fakultas Syariah. Mansur sangat mengapresiasi hal-hal baru tersebut demi penunjang prestasi Mahasiswa Fakultas Syariah, mengingat ketika Mansur kuliah tidak selengkap seperti saat ini dalam segi fasilitas maupun lainnya. Pesan terakhir dari Mansur “Tetap semangat dan tidak ada kata menyerah!”. (Nury Khoiril Jamil/ Media Center)




