SEMINAR SANTRI : KIPRAH SANTRI, INSPIRASI MENEGUHKAN NKRI
Dalam kegiatan yang dipelopori oleh tiga lembaga, yakni Ikatan Mahasiswa Alumni Nurul Islam (Iman Nuris) Jember, Ikatan Mahasiswa Alumni Salafiyah Syafi’yah (Ikmass) Jember, dan juga bekerjasama dengan Fakultas Syariah Institut Agama Islam (IAIN) Jember.
Acara tersebut berjalan lancar dan sukses, karena kekompakan panitia pelaksana yang dimana kerja sama dan sama kerjanya. Acara yang dilaksanakan ditempat Gedung Kuliah Terpadu (GKT) Iain jember. Kamis, (31/10/2019).
Menurutnya, Prof. Dr. Kiai M. Noor Harisuddin M. Fill.I, Dekan Fakultas Syariah IAIN Jember yang juga pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli Jember mengapresiasi kegiatan seminar santri.
“Kegiatan yang diselenggarakan oleh (IKMASS) Jember, dan (IMAN) Jember bekerja sama dengan Fakultas Syariah IAIN Jember ini dihadiri kurang lebih 1200 mahasiswa dan tamu undangan di GKT IAIN Jember.” Ungkap : Prof. Dr. M. Noor Harisuddin M.Fiil.I saat sambutannya.
Menurutnya, Prof. Kiai Haris menekankan tiga karakter santri, yaitu : 1. Pecinta Ilmu 2. Patuh pada kiai atau ulama 3. Cinta NKRI. Dengan demikian, istilah santri tidak hanya mereka yang belajar dipesantren.
“IAIN Jember sebagai kampusnya para santri.” Ujar: Prof. Haris saat mengisi sambutanya.
“Kalau kita lihat jaman sekarang, santri itu sudah diposisi dihargai, dihormati, bukan hanya masyarakat menghormati, tetapi juga negara dengan menempatkan 22 oktober sebagai Hari Santri Nasional.” Ungkap : KH. Robith Qashidi LC (Pengasuh Nurul Islam Antirogo Arjasa) Jember
Menurutnya, kalau kita lihat banyak alumni santri yang menjabat posisi strategis didalam NKRI baik itu menjadi Bupati, Gubernur, DPR, Presiden yang saat ini Wakil Presiden (Wapres) dari kalangan santri yaitu, Kiai Ma’ruf Amin. Posisi yang strategis dan posisi yang luar biasa ini sebenarnya, bukan hanya didapat dengan serta merta. Tetapi banyak perjuangan-perjuangan yang dilakukan oleh santri dan ulama dari jaman dahulu, bukan hanya perjuangan tetapi didalamnya perjalanan sejarah santri. Ini juga banyak tuduhan-tuduhan, cacian-cacian, makian-makian, dan hinaan kepada kaum santri. Dari jaman penjajahan, jaman kemerdekaan, pasca kemerdekaan, banyak terus-menerus tuduhan kepada santri.
Menurutnya, kita sepakat dengan sejarah, dan tidak boleh mengingkari sejarah. Kalau kemudian ada istilah Jasmerah maka ada Jashiaju, jangan pernah melupakan sejarah, ulama. Disini di identifikasi nilai kesantrian tidak terpisahkan dengan para ulama karena kalau kriteria manusia ini ada empat yang kelima celaka, maka santri posisinya yang kedua, pertama adalah aliman, mereka adalah para alim cendikiawan ulama yang memiliki karateristik tafsih billah, yang kedua mutaalliman disinilah kategori santri memasuki karakter yang sangat tepat, untuk mewakili kata mutaaliman, yang ketiga mustamian pendengar, simpatisan dan yang keempat adalah mu’hibban mencintai tetapi tidak sampai benar-benar aktif sebagai santri.
“Kiai As’ad berkata : santri itu ada tiga 1. Santri benar-benar santri, yaitu ikut belajar dipondok pesantren, pulang ke masyarakat mengamalkan ilmunya yang didapat dari gurunya 2. Bau santri, tidak pernah mondok dipesantren tetapi terwarnai masuk pada mustamian atau mu’hibban tetapi mengamalkan, apa yang dia dengar, apa yang dia dapat, diperoleh. Walaupun dia tidak pernah mondok, tidak pernah bertemu langsung transfer keilmuan dengan ulama tetapi tertular kepribadiannya. 3. Santri bau, bukan santri yang tidak sikat gigi atau jarang mandi karena antrian, tetapi mereka sebenarnya adalah karakter negatif dari sosok santri tinggal dipondok pesantren sekian lama, tetapi pulang ke masyarakat terpampar oleh radikalisme, dan liberalisme. Terpampar oleh ajaran-ajaran yang keluar dari garis keilmuan dari gurunya. Maka yang poin ketiga ini kita doakan semoga kembali menjadi santri sesungguhnya” Ungkap: Kiai KHR Azaim Ibrahimy (Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiyah Sukorejo) Situbondo
Reporter : Edi/ Media Center Fakultas Syariah




