ADAKAN WEBINAR JURNALISTIK, DEKAN: KITA TIDAK BOLEH MEMBATASI ILMU DAN PEKERJAAN
Media Center- Kamis, 20/08 Fakultas Syariah IAIN Jember fasilitasi mahasiswa dalam bidang penguatan jurnalistik. Melalui Zoom Meeting, Media Center Fakultas Syariah IAIN Jember mengadakan Webinar dengan mendatangkan pemateri handal, yaitu Moh. Hilmi Setiawan sebagai wartawan Jawa Pos dan Sholikul Huda sebagai Jurnalis Jawa Pos Radar Ijen.
“Kami sudah berkali-kali mengadakan acara pelatihan jurnalistik, sebagai bukti bahwa kami selalu bersemangat” ungkap M. Irwan Zamroni selaku Ketua Umum Media Center. Acara yang dihadiri seratus lebih lebih pendaftar dari baik dari Mahasiswa IAIN Jember hingga luar kampus IAIN Jember juga menjadi bukti besarnya minat mahasiswa dalam bidang jurnalistik.
Mengangkat tema “Menjadi Jurnalis Milenial yang Profesional”, besar harapan kepada tim Media Center dan Mahasiswa Fakultas Syariah IAIN Jember khususnya agar dapat menjadi jurnalis sebagai pilihan pekerjaan lain dan tidak terpaku untuk menjadi penegak hukum.
“Kita tidak boleh membatasi ilmu dan pekerjaan” ungkap Dekan Fakultas Syariah IAIN Jember, Prof.. Dr. Kiai M. Noor Harisudin, M.Fil.I. Kendati Fakultas Syariah bidang utamanya adalah kajian hukum dan syariah, namun menjadi nilai tambah tersendiri jika basis keilmuan yang dimiliki beraneka ragam.
“Semua itu berawal dari suka, dan suka bukan bawaan dari lahir” ungkap Moh. Hilmi Setiawan. Menjadi profesi apapun lazim jika terdapat rasa suka dan duka, namun suka dan duka tersebut haruslah dipaksa untuk selalu suka.
Menjadi jurnalis adalah pekerjaan yang menyenangkan, mengetahui informasi secara cepat, mengenal banyak orang, mengetahui banyak tempat menarik dan kelebihan-kelebihan lainnya. Kedua pemateri yang dihadirkan bukan tanpa perjuangan keras. Memulai semua dari bawah, hingga menjadi sampai pada titik seperti saat ini.
“Membiasakan yang benar itu kan lebih enak, daripada membenarkan yang sudah biasa” kata Moh. Hilmi Setiawan sambil tersenyum. Hilmi juga memberikan tips bahwa dalam menulis hendaknya penulis tidak langsung mengoreksi ketika menulis, melainkan diselesaikan terlebih dahulu.
Pembawaan yang santai nan serius membuat proses transfer knowledge tersalurkan dengan baik. Beberapa tips dan trik dalam menulis juga dibedah pada diskusi ini. Contoh kecilnya, dalam pembuatan judul dimaksimalkan lima sampai enam kata dan menarik, paragraf pertama mencakup isi seluruh yang akan disampaikan, kutipan langsung tidak banyak dan hanya hal-hal yang terpenting, lucu dan unik.
Sholikul Huda menyampaikan bahwa, jurus untuk menjadi jurnalis milenial yang profesional adalah selalu up to date terhadap perkembangan zaman, menggunakan paradigma kritis transformatif, memerhatikan kode etik jurnalistik dan selalu berinovasi.
“Wartawan itu harus skeptis, terus bertanya sampai mentok” ungkap Sholikul Huda dengan penuh semangat. Wartawan dituntut untuk kritis dan peka terhadap keadaan. Peran wartawan memiliki kesamaan dengan peran mahasiswa, yaitu sebagai agent of analysis, agent of control, dan agent of change.
Bagi penulis pemula, tentu akan mengalami berbagai macam problem dalam menulis. Ada beberapa tips utama untuk penulis pemula agar bisa menjadi lebih baik, yaitu membandingkan tulisan yang sudah dan sebelum diedit, dan juga harus banyak membaca berita di berbagai media sebagai referensi.
“Orang-orang menjadi abadi karena tulisan. Ada tokoh hebat semasa hidupnya, tetapi hilang setelah meninggal,” ungkap Prof. Dr. Kiai M. Noor Harisudin, M.Fil.I. Dekan Syariah yang juga penanggungjawab Media Center. Tidak dapat dipungkiri, jika tulisan adalah hal yang paling menentukan seseorang akan abadi atau tidak. Dengan menulis, membuat seseorang akan lebih mudah dalam ingatan orang.
Sholikul Huda berpesan kepada peserta bahwa, kejar cita-cita setinggi langit dan jangan pesimis akan suatu kegagalan, karena cita-cita yang tinggi tidak akan jatuh sia-sia. Hal ini selaras dengan pernyataan Moh. Hilmi Setiawan bahwa, dalam setiap proses adalah guru terbaik agar bisa selalu berbenah diri dan tidak boleh bagi seorang jurnalis merasa puas atas suatu pencapaian.
Reporter : Nury Khoiril Jamil
Editor : Moh. Abd. Rauf



