APARAT HARUS LEBIH HUMANIS DALAM PENEGAKAN HUKUM DI MASA PANDEMI
Media Center- Pandemi Covid-19 yang melanda di seluruh dunia termasuk Indonesia, membuat banyak sektor terdampak. Sektor kesehatan, ekonomi, sosial, pendidikan bahkan keagamaan.
Menjadi hal menarik ketika perbincangan pandemi Covid-19 dikaitkan dengan sektor keagamaan, khususnya agama Islam merupakan agama yang diyakini kebenarannya dari Allah SWT.
Kali ini Madrasah Virtual Alkimya mengadakan acara Webinar seri Mudarris dengan tema “Islam, Pandemi Covid-19 dan Teologi Kebangkitan Umat” pada minggu (08/08). Dihadiri oleh Prof. Dr. Kiai. M. Noor Harisudin, M.Fil.I. sebagai pemateri dan dimoderatori oleh Dr. M. Asvin Abdur Rohman, M.Pd.I. Peserta melalui Zoom dan YouTube dari berbagai kalangan di Indonesia.
“Kita akan berbicara pra dan pasca penciptaan manusia, pandemi serta bagaimana sikap umat dalam menghadapi situasi ini. Ini akan menarik dari beberapa sudut pandang,” ungkap Dr. M. Asvin Abdur Rohman, M.Pd.I.
Kiai Harisudin sangat tertarik dengan tema yang diangkat. Isu keagamaan yang sering mencuat disandingkan dengan pandemi Covid19 serta semangat kebangkitan pada bulan kemerdekaan menjadikan Webinar kali menjadi lebih menarik.
Dalam penyampaiannya, Kiai Harisudin mengatakan bahwa, agama Islam merupakan agama yang bersumber dari dari Tuhan dan disampaikan oleh Rasulullah SAW yang kemudian sampai kepada umat yang menjadi cara berpikir dan cara bertindak.
“Jika dalam kondisi normal agama kita bisa menjadi spirit kepada para muslim untuk kerja keras-kaya raya-pengusaha. Sedangkan jika dalam kondisi pandemi seperti saat ini kita mesti menempatkan agama sebagai solusi di tengah-tengah kehadiran masyarakat yang sedang galau atau takut terhadap covid-19,” jelas dekan Fakultas Syariah UIN KHAS Jember.
Sejarah panjang pandemi atau disebut dengan tho’un dimulai sejak zaman Rasulullah SAW dalam kitab Thofaturrowibin fi Bayani Amri Thowa’in karangan Syeikh Zakaria Al-Ansori murid Ibnu Hajar Al-Asqolani. Hal menarik dari kitab ini ialah terdapat data-data tentang tho’un yang terjadi di wilayah Islam pada masa Rasulullah SAW sejak tahun 628 M.
Adanya pandemi ini menurut Kiai Harisudin juga berdampak pada psikologi masyarakat, banyak anggapan bahwa adanya musibah ini merupakan akhir dari dunia.
“Tho’un ini terjadi sejak lama dan kita tidak tahu kapan akan berhenti, dan tho’un merupakan sesuatu yang tidak bisa ditolak kehadirannya,” jelas Guru Besar UIN KH Achmad Siddiq Jember itu.
Kiai Harisudin sangat menyayangkan pembiaran yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia terhadap masuknya WNA ke Indonesia, pada sisi lain warga Indonesia sedang menjalani pembatasan. Dalam lain hal, krisis tabung oksigen, donor darah plasma konvalesen, ketakutan dan lainnya tidak membuat oknum politikus berempati. Tidak transparan data Covid-19, korupsi dan hal lain membuat penanganan Covid-19 tidak maksimal.
“Ini catatan kita, perlu disebutkan agar pemerintah tidak mengulangi. Akibatnya Indonesia menggantikan posisi India sebagai kasus Covid-19 terbanyak di Asia bahkan sempat menggantikan posisi Brazil terbanyak sedunia,” tambahnya.
Selain kritik yang dilayangkan, Kiai Harisudin juga menyampaikan apresiasinya terhadap kinerja pemerintah yang sudah melakukan banyak hal. Kemudian, tokoh agama turut bekerjasama untuk menganjurkan mematuhi protokol kesehatan, karena menurut para ulama Ulul Amri adalah pemerintah, sehingga menjadi wajib muakad untuk mengikuti segala peraturan dari pemerintah.
“Insyaallah akan diberi jalan dan masih banyak harapan ke depan, tetapi tentu harus taat prokes, sehingga kita bisa terlepas dari pandemi ini, ” pungkas Kiai Harisudin yang juga Ketua Pengurus Pusat Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara (APHTN-HAN).
Dalam penutupnya, Kiai Harisudin berpesan untuk mengikuti aturan yang ditetapkan pemerintah dan kepada aparat yang bertugas di lapangan juga agar lebih humanis dalam menertibkan pelanggaran di masyarakat.
Reporter: Wartik Murtisari
Editor: Nury Khoiril Jamil




