BUSRIYANTI, SANG KARTINI DARI RANAH MINANG
Media Center- Pendidikan bagi perempuan begitu penting karena perempuan juga memiliki tanggung jawab untuk memajukan peradaban bangsa. Dari tangan perempuanlah terlahir generasi penentu masa depan Negara. Pada 10 Juni 1971 tepatnya di Bukittinggi Sumatra Barat, lahir seorang perempuan bernama Busriyanti dari pasangan Busra dan Rizalti. Terlahir dari keluarga yang memilki keterbatasan ekonomi, dan menjadi yatim sejak umur 27 hari. Sang Ibu adalah seorang penjual gorengan sehingga berpengaruh pada pendidikan Busriyanti karena tidak sesuai dengan keinginannya.
Perjalanan pendidikan Busriyanti dimulai dari Sekolah Dasar di SDN 04 Baso, melanjutkan di Madrasah Al Islami Al Ashriyyah (MIA) dari tahun 1984 hingga 1900. Semenjak kecil, Busriyanti menggemari pelajaran eksak dan bercita-cita menjadi Insinyur, namun karena keterbatasan biaya akhir cita-cita tersebut tidak tercapai.
“Saat di SDN 04 Baso, saya menggemari pelajaran eksak sehingga punya cita-cita menjadi Insinyur. Namun cita-cita itu kandas karena tidak ada biaya, akhirnya yang semula pingin ke SMP akhirnya sekolah di sebuah madrasah,”lugasnya.
Tahun 1990 sampai 1944, ia melanjutkan pendidikannya di Fakultas Syariah IAIN Imam Bonjol Padang yang sekarang bernama IAIN Bukittinggi. Tahun 1995 tes beasiswa S2 oleh Kemenag dan lulus di IAIN Ar-Raniry Banda Aceh (sekarang UIN ar Raniry Banda Aceh).
“Awalnya tidak terbayang kuliah di Syariah yang tidak saya minati sama sekali. Tapi karena itu satu-satunya yang ada di kota Bukittinggi dan saya tidak harus kos, akhirnya saya kuliah di Syariah. Tapi sampai saat ini saya syukur karena inilah jalan yg ditakdirkan Allah buat saya dan sungguh rencana Allah luar biasa,” tutur Yanti dengan syukurnya.
Di sisi lain, Busriyanti aktif dalam organisasi ekstra maupun intra, namun ia berkomitmen untuk mengakhiri keaktifannya pada semester 6 karena harus menyelesaikan kuliahnya.
“Saya aktif di organisasi sampai semester 6 karena masuk semester 7. Saya mau menyelesaikan kuliah karena saya cari biaya sendiri. Sabtu dan minggu saya ngajar di Madrasah tempat saya sekolah dan juga di sekolah lain. Honor ngajar itu saya kumpulkan untuk biaya kuliah. Saya juga bikin kue-kue yang saya titipkan di kantin kampus. Disamping itu, saya juga sering mewakili kampus dalam lomba-lomba. Salah satunya lomba cerdas tangkas P4 sampai juara tingkat propinsi. Padahal lawan tanding kami mayoritas saat itu dari PTN,” Ucapnya.
Setelah selesai S2 tahun 1997, Busriyanti ditempatkan pertama kali sebagai dosen di IAIN Bengkulu pada Maret tahun 1998. Karena suaminya bertugas di STAIN Curup ( saat ini IAIN Curup) masih di propinsi Bengkulu, akhirnya tahun 2000 Yanti berpindah ke STAIN Curup. Di STAIN Curup karirnya di Fakultas Syariah dimulai. Dia dan teman-teman menginisiasi berdirinya jurusan Syariah tahun 2007 dan ditunjuk menjadi Ketua Jurusan. sampai tahun 2011. Tahun 2011, Yanti pindah ke Jember karena mengikuti suaminya yang bertugas di IAIN Jember.
Tahun 2015, Busriyanti menjadi dosen di IAIN Jember dan bergabung di kepemimpinan Fakultas Syariah IAIN Jember sebagai Ketua Program Studi Hukum Ekonomi Syariah.
“Alhamdulillah, di Jember saya juga diajak bergabung di kepengurusan MUI kabupaten Jember di komisi perempuan, remaja dan keluarga. Disamping itu saat ini saya juga pengurus di IKM (Ikatan Keluarga Minang) sebagai wadah keluarga perantau Minang”,tegas Perempuan asal Ranah Minang itu.
Busriyanti menyelesaikan pendidikan S3-nya di UIN Sunan Ampel Surabaya dalam bidang ilmu Studi Islam dan selesai tahun 2020.
Adapun langkah strategis dalam mewujudkan visi misi Prodi Hukum Ekonomi Islam adalah dengan meningkatkan mutu dalam segala aspek. Terutama kurikulum, pembelajaran, kualitas dosen dan prestasi mahasiswa
“Sejak menjadi Kaprodi HES di tahun 2015 tantangan pertamanya adalah adanya perubahan nomenklatur prodi yang awalnya muamalah yang lebih kental ke ekonomi daripada ke hukumnya. Sehingga saat itu langkah awal adalah dengan perubahan kurikulum yang cukup signifikan dan kami terus memaksimalkannya,”ungkapnya saat diwawancarai tim Media Center.
“Alhamdulillah sudah banyak kerjasama dengan pihak lain yang dilakukan untuk memperkenalkan prodi dan Fakultas, salah satunya di Prodi HES kita sudah kerjasama dengan KPPU Pusat. Sehingga tahun kemarin sudah ada mahasiswa yang PKL disana,” tambahnya.
Di sisi lain, Busriyanti berupaya memaksimalkan peran media sosial untuk mengenalkan Fakultas Syariah kepada masyarakat. Dengan sering mengupload kegiatan Fakultas Syariah baik di Facebook, Instagram maupun WhatApp Grup.
“Untuk memajukan Fakultas. Kebetulan saya saat ini juga sebagai Ketua Gugus mutu Fakultas Syariah merangkap jabatan sebagai kaprodi. Saya mendukung sekali dengan cita-cita Pak Dekan agar semua prodi di Fakultas Syariah di tahun 2024 dapat nilai unggul. Dengan target seperti itu dibutuhkan keseriusan dari setiap elemen yang ada di Fakultas. Sebagai Ketua Gugus Mutu tanggung jawab saya tidak terbatas di Prodi HES saja, tapi fakultas secara umum,” pungkasnya.
“Kurikulum yang sudah kami kembangkan dan disesuaikan dengan perubahan gelar dan tuntutan pasar sehingga alumni bisa bersaing, monitoring dan evaluasi pembelajaran dengan menyebarkan angket dalam bentuk google form ke mahasiswa terkait kepuasan mahasiswa terhadap pembelajaran dari dosen. Ini penting dalam rangka perbaikan ke depan. Kuisioner juga diberikan ke dosen-dosen terkait tentang harapan-harapan dosen yang berkaitan dengan pembelajaran,”pungkas Ketua Gugus Mutu Fakultas Syariah itu.
Reporter: Arif Hidayatullah
Editor: Siti Junita



