syariah@uinkhas.ac.id -

DEKAN SYARIAH PAPARKAN KONSEP FIQIH AL-AQALLIYAT DALAM SABBATICAL LEAVE KEMENAG RI

Home >Berita >DEKAN SYARIAH PAPARKAN KONSEP FIQIH AL-AQALLIYAT DALAM SABBATICAL LEAVE KEMENAG RI
Diposting : Rabu, 30 Sep 2020, 12:51:00 | Dilihat : 873 kali
DEKAN SYARIAH PAPARKAN KONSEP FIQIH AL-AQALLIYAT DALAM SABBATICAL LEAVE KEMENAG RI


Media Center. Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (DIKTIS) Kementerian Agama RI (DIKTIS) mengadakan acara Tadarus Litapdimas, Klaster Sabbatical leave Dalam dan Luar Negeri, dengan tema “Minoritas dalam Islam dan Studi Kawasan.” Selasa (29/09/2020).

Acara tersebut dibuka oleh Prof. Dr. Muhammad Ali Ramdhani, S.TP., M.T., (Direktur Jendral Pendidikan Islam Kementerian Agama RI), narasumber pada acara kali ini yaitu Prof. Eka Srimulyani, Ph.D (UIN Ar-Raniry, Banda Aceh), dan Prof. Dr. M. Noor Harisudin. M.Fil.I (Dekan Fakultas Syariah IAIN Jember), dan Dr. Abd. Basir, S.Pd.I, M.Pd.I (Koordinator Sabbatical Leave Dalam Negeri) sebagai moderator, sedangkan Pembahas pada acara kali ini yaitu Prof. Akh. Muzakki, M.Ag., Grad. Dip. SEA, M.Phil, Ph.D., (UIN Sunan Ampel Surabaya) dan testimoni langsung dari Dr. Samian Ahmad, M.Pd (Rektor IAIN Ternate), Acara diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai akademisi se-Indonesia.

Sabbatical leave merupakan program dalam negeri yang sangat inovatif yang bertujuan untuk membantu bagaimana cara membuat perguruan tinggi yang lebih baik, membangun pribadi dosen yang lebih baik, mempunyai kapasitas kemampuan secara akademik dan networking yang baik. Program sabbatical leave juga merupakan salah satu bentuk penguatan dari moderasi beragama.

“Tema ini sangat penting terlebih dalam hal penguatan moderasi beragama yang kini telah menjadi salah satu isu strategis, termuat dalam RPJM 2020-2024,” pungkas Prof. Dr. Muhammad Ali Ramdhani, S.TP., M.T., selaku Direktur Jendral Pendidikan Islam Kementerian Agama RI.

Moderasi beragama akan tercipta jika di dalam diri kita memiliki komitmen untuk saling menghargai, menjunjung tinggi perbedaan, termasuk perbedaan dalam beragama. Keharmonisan beragama tidak sekedar berdasarkan relasi mayoritas maupun minoritas dalam beragama, tetapi bagaimana kemampuannya untuk mencari titik persamaan di dalam nilai dan moral agama.

Program ini patut diteruskan, mengingat sasaran dari program ini sangat luar biasa. Orientasinya bukan hanya tercapainya guru besar di IAIN dan STAIN, akan tetapi lebih kepada menciptakan guru besar yang multitalenta dan multifungsi, mungkin terkait prodi, borang, dan lainnya serta mengetahuai apa yang dibutuhkan oleh kampus masing- masing. Sabbatical leave telah melahirkan klaster karya-karya inovatif seperti publikasi ilmiah internasional, berindeks scopus, penulisan buku dan lain sebagainya.

”Akan ada banyak lagi program-program kita yang insyaallah kalau di tahun 2021 situasi pandemi sudah menurun, APN juga ada peningkatan, insyaallah kita akan mengadakan kembali program-program yang serupa, tidak hanya yang dalam negeri, tetapi juga luar negeri,” pungkas Kiai Suwendi selaku Kasubdit.

“Kita harus menyeimbangkan kurikulum pendidikan Islam sesuai tridarma perguruan tinggi, terutama di bidang pengabdian,” pungkas Dr. Samian Ahmad, M.Pd., selaku Rektor IAIN Ternate yang juga menjabat sebagai Kepala MUI Maluku Utara. Mengingat seharusnya kampus tidak hanya berada di ranah akademik, tetapi lebih dari itu, supaya kampus bisa didorong dengan adanya desa binaan ke depan yang juga menjadi jantung akademik, dan ini perlu sinergisitas serta kekompakan terutama untuk perguruan tinggi keagamaan.

Kita pahami bersama bahwa dunia kini sudah bergerak begitu cepat, kita tahu bahwa di negara minoritas muslim seperti amerika, eropa, dan lainnya, tantangan terbesar dihadapi oleh minoritas umat muslim yang bermacam-macam, misalnya mereka harus memperhatikan syarat kehalalan makanan, kehalalan produk, maupun tempat ibadah.

Berbicara mengenai kehidupan minoritas muslim di Korea Selatan, Prof. Eka Srimulyani, Ph.D., mengatakan bahwa minoritas adalah salah satu bentuk identitas sosial. Di Korea Selatan, kegiatan keagamaan menjadi penting karena dapat menjadi jembatan untuk semua muslim yang ada disana, mereka dapat berbagi makanan, selera yang sama, bahasa yang sama, semangat yang sama dan sebagainya hanya saat di kegiatan keagamaan (pengajian), jadi kegiatan keagamaan itu menjadi sebuah moment yang penting dari konteks muslim minoritas di Korea Selatan. Bagian yang paling berat bagi masyarakat tamu adalah saat mereka dihadapkan dengan berbagai perbedaan tradisi dan budaya setempat yang jauh berbeda dengan Indonesia.

“Selain ada istilah islamo-phobia, ternyata disana juga ada istilah islamo-ignorance, yang artinya mereka sama sekali tidak tahu mengenai Islam yang sesungguhnya,” ujar Prof. Eka Srimulyani, yang juga pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Maksudnya, Islam yang harusnya dikenal sebagai rahmatan lil ‘alamin atau Islam yang damai, tetapi mereka hanya tahu bahwa Islam sama dengan ISIS (Islamic State in Iraq and Syria), hal ini terkait dengan politik global dan media, yang menyebabkan seolah-olah, ISIS sama dengan Islam itu menjadi image yang merubah cara masyarakat Korea Selatan melihat muslim.

Dari sisi lain, Prof. Dr. Kiai M. Noor Harisudin. M.Fil.I, selaku Dekan Fakultas Syariah IAIN Jember yang saat itu dalam Sabbatical leave dalam negeri mengambil di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dengan buku yang dihasilkan yakni ‘Fiqh Al-Aqalliyat on Practicing of Muslim Minorities’.

“Saya setuju dengan pendapat Dr. Samian Ahmad, M.Pd., bahwa pengabdian harus diperbanyak,” pungkasnya. Fiqh Al-Aqalliyat ini menjadi bagian dari pengabdian masyarakat. Jadi, saat melihat tujuan praktisnya adalah apa yang harus dilakukan oleh muslim ketika mereka menjadi pekerja (TKI), atau pelajar, sementara disana terbatas. Inilah yang menjadi pokok pikiran kenapa buku tersebut lahir. Padahal hal tersebut sudah menjadi hal yang serius, minimal saudara-saudara kita yang muslim yang tinggal di negara-negara minoritas muslim.

“Tidak ada cara lain agar kita mengalami rekognisi (hal yang diakui) di dunia Internasional, kecuali melalui publikasi yang bisa dibaca oleh banyak orang, Sabbatical leave, Professor Exchange, ini menjadi intrumen penting untuk melakukan apresiasi pada teman-teman akademisi di PTKI sekaligus untuk mendapatkan rekognisi dunia Internasional,” ujar Prof. Akh. Muzakki.

Saya kira, ini menjadi tugas kita bersama dan semoga pertemuan Sabbatical leave menjadi jawaban dari itu semua, dapat melahirkan energi yang positif dan fresh membuat kita bersemangat,” pungkas Dr. Abd. Basir selaku Koordinator Sabbatical Leave Dalam Negeri. Program Sabbatical leave adalah sebuah program yang benar-benar harus ditekuni dan harus dilanjutkan bersama untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik. Acara live melalui zoom meating dan youtube, pukul 10.00-12.00 WIB.

 

 

Reporter: Erni Fitriani

Editor: M. Irwan Zamroni Ali

 

Berita Terbaru

Kompetisi Skripsi Terbaik Fakultas Syariah : Wadah Peneliti Muda Berprestasi dan Inspirasi Bagi Seluruh Mahasiswa
22 Jan 2026By syariah
Dekan Wildani Hefni Paparkan Spesialisasi Prodi Hukum Bisnis Fakultas Syariah UIN KHAS Jember: Agribisnis Halal Berbasis Kearifan Lokal
21 Jan 2026By syariah
Membanggakan, Fakultas Syariah UIN KHAS Jember Jadi Fakultas Terbaik Penataan Kantor dan Lingkungan Ideal berbasis Ekoteologi
14 Jan 2026By syariah

Agenda

Informasi Terbaru

Belum ada Informasi Terbaru
;