HMPS HK ADAKAN DISKUSI PUBLIK, MERAWAT CERITA GUS DUR DI ERA KEPRESIDENAN RI
Media Center- Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur merupakan tokoh Muslim Indonesia yang menjadi Presiden dari tahun 1999 hingga 2001. Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-76, Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Hukum Keluarga Universitas Islam Negeri (UIN) Kiai Haji Achmad Siddiq (KHAS) Jember menyelenggarakan Diskusi Publik “Membingkai Potret Politik KH. Abdurrahman Wahid Dalam Kepresidenan RI”. Acara ini dilaksanakan secara virtual pukul 09.00 WIB melalui Zoom meeting pada Kamis (19/8).
Adapun narasumber pada ‘Diskusi Publik’ kali ini yaitu Hairus Salim, HS sebagai Direktur Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKIS) dan Penulis Buku Gus Dur Sang Kosmopolit dan Dr. Aksin Wijaya M. Ag. sebagai Direktur Pascasarjana IAIN Ponorogo.
Naila Margareta mengungkap latar belakang pengambilan tema seputar Gus Dur, karena kaum milenial membutuhkan sosok keteladanan dari sang tokoh pluralisme ini.
“Beliau lahir disaat titik pertikaian politik, hidup di lingkungan agamis sehingga beliau suka mencari ilmu tentang agama dan politik. Ini sangat cocok dikaji terutama bagi para kaum milenial yang masih asing kepada sosok Gus Dur,” ujar Ketua Umum HMPS HK itu.
Dr. Martoyo, S.H.I., M.H., juga memberikan apresiasi kepada HMPS HK atas terselenggaranya acara ini.
“Saya atas nama pimpinan sangat bersyukur atas terselenggaranya acara ini. Kebanyakan kaum milenial hanya memahami Gus Dur dari buku. Sedangkan pada kesempatan ini dihadirkan para pemateri sekaligus pelaku sejarah pada masa kepemimpinan Gus Dur. Saya rasa ini sebagai titik temu untuk belajar sejarah apa yang sudah ditorehkan Gus Dur sebagai pembelajaran.” tutur Wakil Dekan III Fakultas Syariah UIN KHAS Jember pada sambutannya.
Dilihat dari sejarah, Gus Dur menyatakan dirinya siap menjadi presiden karena telah terhubung dengan Raja Jawa. Gus Dur merancang dirinya sebagai pemimpin yang plural, dan majemuk terutama dari caranya berpikir. Oleh karena itu Gus Dur memiliki banyak teman dari berbagai kalangan.
“Beliau orang Nahdhatul Ulama dan berteman dengan banyak kalangan. Salah satunya dengan tantara sebagai elemen kekuatan negara dan Partai Sosialis Indonesia (PSI ) yang anggotanya para intelektual dan cendekiawan,” ujar Hairus Salim yang juga pernah menempuh Strata 1 di UIN SUKA Yogyakarta.
Tidak hanya itu, Gus Dur juga berteman dengan para saudagar Tionghoa, dan menjalin hubungan baik dengan umat non muslim.
“Saya kira tidak ada orang yang memiliki banyak hubungan dengan banyak orang selain Gus Dur. Tidak ada musuh bagi Gus Dur, karena baginya semua teman,” ungkap Hairus yang juga pernah menempuh magister di Universitas Gadjah Mada tahun 2004.
Pada saat menjadi presiden, banyak perubahan yang terjadi. Semangat dalam membangun Indonesia dengan keberagaman, memulangkan semua orang yang eksil di luar negeri untuk bersama membangun Indonesia.
Beberapa hal yang dilakukan Gus Dur untuk membuat Indonesia maju yaitu menghapus Departemen Penerangan, menghapus Departemen Sosial, menghapus larangan menjalan kebudayaan Tiongkok, mengganti nama Irian menjadi Papua, menghapus Dwi Fungsi ABRI, menggilir jabatan panglima TNI, menjadikan Imlek sebagai hari libur nasional, membuka Kementerian Hak Asasi Manusia (HAM), membuka Kementerian Kelautan, mengubah Kementerian Peranan Wanita menjadi Kementerian Pemberdayaan Perempuan, membuat gender mainstream/Pengarusutamaan Gender (PUG), memperhatikan buruh, menghapus TAP MPRS No. 29 1966 yang melarang segala bentuk ajakan marxisme dan leninisme, membuat memorandum of undersanding dengan 5 negara blok timur. Adapun yang belum terealisasi ialah unsur hubungan diplomatik dengan Israel.
Dr. Aksin Wijaya M. Ag., membaca Gus Dur dari segi nalar keislaman dan cara berpikirnya. Menurutnya, Gus Dur adalah seorang visioner, memimpin dengan bersih.
“Kalau kita mau baca nalar Gus Dur secara utuh pasti susah karena Gus Dur itu adalah manusia yang multidimensi. Gus Dur bisa disebut ulama, politisi, cendekiawan, aktivis HAM, tokoh LSM dan juga Kiai,” ucap Dr. Aksin yang juga Warek III IAIN Ponorogo.
Gus Dur juga menawarkan tiga unsur epistemologi pribumisasi Islam/Islam pribumi. Pertama, universalisme yang bermakna bahwa Islam tidak terikat oleh ruang dan waktu. Kedua, kosmopolitanisme yang bermakna bahwa Islam itu berdialog dengan peradaban (Arab, Persia, Andalusia /Spanyol) melahirkan wajah Islam yang benar. Islam dan peradaban Nusantara disebut Islam Nusantara. Gus Dur memilih kelompok yang tidak terlalu mementingkan simbol, namun mengejawantahkan nilai-nilai Islam tersampaikan di Indonesia. Ketiga, yakni pribumisasi Islam.
Meski masa kepresidenannya hanya 2 tahun, Gus Dur meninggalkan jejak yang berpengaruh hingga saat ini. Terutama semangat kemajemukan yang luar biasa hingga dijuluki Bapak Pluralisme Indonesia.
Acara yang dimoderatori oleh Santi Parwati, S.H. ini berlangsung secara aktif dan diikuti ratusan peserta dari berbagai kalangan di Indonesia.
Reporter: Erni Fitriani
Editor: Siti Junita




