IBU NYAI ROSYIDAH, ALUMNI FAKULTAS SYARIAH YANG JUGA PENGASUH PESANTREN KHARISMATIK
“Wajah alumni kita adalah wajah perguruan tinggi kita. Sukses alumni kita adalah sukses perguruan tinggi kita. Karena itu, kita tidak boleh mengabaikan pemberdayaan terhadap alumni-alumni kita.” Demikian seperti yang disampaikan oleh Dekan Fakultas Syariah IAIN Jember Prof. Dr. Kiai M. Noor Harisudin, M. Fil.I., beberapa waktu yang lalu. Kalimat tersebut akan selalu memicu semangat kita untuk menjadi orang sukses seperti halnya alumni-alumni yang ada di IAIN Jember, terlebih alumni Fakultas Syariah, baik dari perjuangan, hambatan, tantangan, rintangan, sampai akhirnya mendapatkan hasil dari kerja keras yang dialami dari perjuangan tersebut. Untuk itu mari kita simak kembali perjalanan salah satu profil alumni Fakultas Syariah IAIN Jember yang satu ini.
Tokoh kali ini bukan seorang pejabat-pejabat tinggi kampus ataupun pejabat tinggi negara, seperti kebanyakan alumni-alumni yang sebelumnya, tetapi beliau adalah seorang pengasuh salah satu Pondok Pesantren ternama di kabupaten Jember, Pondok Pesantren Darus Sholah. Siapa yang tidak mengenali pesantren tersebut? Penasaran kira-kira siapa alumni kita yang satu ini ! Yuk, kita simak bersama.
Siti Rosyidah, S.H.I., biasa dipanggil Ibu Nyai Rosyidah, lahir di Kota Gandrung Banyuwangi, pada tanggal 30 Desember 1959. Ibu Nyai Rosyidah merupakan istri dari Alm. Drs. KH.Yusuf Muhammad LML (Gus Yus) yang merupakan pendiri Pondok Pesantren Darus Sholah tersebut. Kini, Ibu Nyai Rosyidah telah dikaruniai 2 orang putra, yaitu M. Zacki Audani anak pertama dan Muhammad Farid Aulavi anak kedua.
Selama di STAIN Jember (sekarang IAIN Jember), Ibu Nyai Rosyidah muda merupakan mahasiswi Fakultas Syariah Prodi Al-Ahwal As-Syakhsiyyah (AS) (sekarang Hukum Keluarga HK). Lulus sebagai sarjana pada tahun 2001, menjadikan Ibu Nyai Rosyidah sebagai salah satu lulusan atau alumni angkatan pertama Fakultas Syariah STAIN Jember kala itu.
Menempuh pendidikan sarjana di IAIN Jember, patut kita syukuri bersama karena selain diajarkan tentang mata kuliah yang ada di jurusan atau prodi, disana juga diajarkan sebuah pendidikan karakter berupa akhlakul karimah yang biasanya hanya bisa didapatkan di pesantren saja. Itulah yang membuat sosok alumni lulusan IAIN Jember terkenal dengan kesopanannya. “Kesopanan lebih tinggi nilainya dari pada kecerdasan.” Itulah mengapa kesopanan menjadi penting bagi setiap orang.
Ada kisah menarik yang terjadi pada sosok Ibu Nyai Rosyidah muda saat masih menjalani perkuliahannya. Beliau harus rela berangkat pagi dari jam 5 sampai jam 6 untuk bisa mengikuti proses perkuliahan di STAIN Jember kala itu. Hal tersebut terpaksa dijalani karena keadaan fasilitas kampus berupa gedung atau kelas di STAIN Jember saat itu yang masih kurang memadai, ditambah jarak yang harus ia tempuh dari kediamannya menuju STAIN Jember.
“Selain jarak yang harus saya tempuh lumayan jauh, ditambah gedungnya masih satu, akibatnya kelasnya masih kurang, sehingga jam masuknya harus bergantian. Tapi saya harus tetap semangat untuk terus menuntut ilmu,” tutur Ibu Nyai Rosyidah yang merupakan pengasuh PP. Darus Sholah Jember itu.
Sebagai seorang istri dari kiai karismatik yang kini telah wafat, menjadikan Rosyidah harus siap dan mampu untuk bertahan menghadapi cobaan berat tersebut. Ia harus bisa melanjutkan cita-cita suaminya sebagai pengasuh Pondok Pesantren Darus Sholah Jember.
“Alhamdulillah sampai saat ini perkembangannya masih baik-baik saja, memang harus bisa membagi waktu agar semua kegiatan terlaksana dengan baik. Ketika suami saya wafat, saya harus bisa meneruskan peninggalan almarhum berupa Pondok Pesantren Darus Sholah ini. Mudah-mudahan saya bisa melestarikan peninggalan beliau dan bisa mewujudkan cita-cita beliau yang belum terealisasi,” ujar Ibu Nyai Rosyidah yang juga Kepala Sekolah Dasar (SD) Darus Sholah saat ini.
Pondok Pesantren Darus Sholah sendiri didirikan oleh KH Yusuf Muhammad yang lahir di Jember, 23 Pebruari 1952. Gus Yus merupakan anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI dapil Jember pada Pemilu Pertama bagi Partai Kebangkitan Bangsa pada tahun 1999. Gus Yus duduk di komisi II membidangi hukum dalam negeri. Selain itu, mubaligh kondang yang dikenal alimnya itu juga menjadi panitia adhoc I, amandemen UUD 1945, Pansus Pembentukan Provinsi Babel, dan Gorontalo intens dalam pembuatan UU. Tugas-tugas tersebut merupakan bagian dari komitmennya sebagai anggota DPR RI saat itu.
Sebagai ketua FPKB MPR RI, Gus Yus mempunyai 3 peran sentral yaitu, pertama, PKB pemenang ke 3 pemilu 1999 sangat menentukan jalannya perpolitikan nasional; kedua sebagai pendukung utama Presiden Gus Dur dalam mengawal kebijakan Gusdur di MPR dan; ketiga, sebagai partai yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan, peran FPKB sangat menentukan arah dan warna proses amendemen UUD 1945. Menurut Gus Yus , proses amendemen tersebut prinsipnya kedaulatan rakyat, check and balance dan low inforcement.
Saat Pemilu 2004, Gus Yus terpilih kembali menjadi anggota DPR RI FPKB , menjadi ketua komisi VIII yang membidangi agama, sosial dan pemberdayaan perempuan. Beberapa kalangan menamakan Gus Yus sebagai “duta pesantren untuk senayan”. Gus Yus juga sering berkelakar kalau di komisi VIII “komisi akhirat”. Meski sibuk sebagai anggota DPR RI, Gus Yus tetap istiqomah mengurus pesantren, mengajar kitab kuning dan mengadakan pengajian umum. Gus Yus meninggal dalam kecelekaan pesawat Lion Air saat di Muktamar NU Boyalali tahun 2004 yang silam.
Kini, warisan Gus Yus adalah Pondok Pesantren Darus Sholah beralamat di Jln. Moh. Yamin 25, Tegal Besar Kulon, Tegal Besar, Kaliwates, Jember. Sebagai salah satu pesantren terbesar di Jember, jumlah santrinya dari tahun ke tahun semakin banyak. Jumlah santrinya kurang lebih 5000-an. Santrinya pun tidak hanya berasal dari kota Jember, melainkan juga berasal dari luar kota Jember, seperti dari Bondowoso, Banyuwangi, Bali, Semarang, Jakarta, Lampung, Aceh dan masih banyak kota-kota lainnya. Alumni Darus Sholah juga mencapai ribuan tersebar ke berbagai pelosok di Indonesia. Sebagai pondok pesantren modern, Darus Sholah juga dilengkapi dengan pendidikan formalnya mulai dari tingkat Paud, TK, SD, SMP Plus, MA, SMA Unggulan BPPT, TPQ, Madrasah Diniah (MD), dan lain-lain.
Besarnya Pondok Pesantren Darus Sholah Jember pasti mengalami banyak tantangan, rintangan dan hambatan yang harus dilalui oleh Ibu Nyai Rosyidah, mulai dari wafatnya suaminya Gus Yus yang merupakan pendiri dari Pondok Pesantren tersebut dan rintangan yang lainnya. Namun berkat keberkahan dan ketabahannya, akhirnya beliau berhasil melalui itu semua.
“Tetap semangat belajar, dan raihlah cita-cita setinggi langit, kalau bisa mondok untuk menambah ilmu agama dan menjaga ibadah khususnya sholat fardhu,” ujar Ibu Nyai Rosyidah yang juga aktif sebagai Wakil Ketua Muslimat Cabang Jember.
Banyak sifat teladan yang dapat kita contoh dari sosok alumni yang satu ini, meski banyak rintangan yang harus dihadapi, beliau tidak pernah mengeluh dan menyurutkan niat serta semangat untuk mencari ilmu dimanapun tempatnya.
Reporter: Wildan Rofikil Anwar
Editor: M. Irwan Zamroni Ali



