KOMPAS, TULARKAN MINAT MAHASISWA TERHADAP ILMU FALAK
Jember – Media Center
Komunitas Pecinta Astronomi Islam (KOMPAS) Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember kembali menyapa mahasiswa Pondok Pesantren Baitul Ilmi dalam acara Kompas Mengajar (KOMEN). Acara tersebut diselenggarakan di Ma'had Abu Bakar Ash-Shiddiq IAIN Jember pada Sabtu, pukul 08.30-11.30 WIB (29/11/20).
Wakil Ketua Pengurus Pondok Pesantren Mahasiswa Baitul Ilmi, Shona Amelia Risky dalam sambutannya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya karena telah diundang untuk belajar tentang perbintangan. Menurutnya, astronomi ini sangat dibutuhkan oleh umat Islam dalam menentukan beberapa hal yang berkaitan dengan ibadah.
“Dengan ilmu astronomi, kita dapat menentukan masuknya waktu salat, melihat hilal, dan lain-lain,” tutur Shona Amelia yang juga mahasiswa semester 5 Fakultas Dakwah IAIN Jember itu.
Rangkaian acara KOMEN meliputi dari perkenalan KOMPAS hingga materi ilmu astronomi Islam dan pengamatannya. Perkenalan KOMPAS disampaikan oleh Achmad Affan Ghaffar selaku Wakil Ketua KOMPAS.
“KOMPAS lahir pada 18 April 2016 yang diinisiasi oleh pihak Laboratorium Fakultas Syariah IAIN Jember. Sampai saat ini, Fakultas Syariah menaungi KOMPAS yang di dalamnya berasal dari mahasiswa syariah sendiri dan tadris IPA,” pungkas Affan. Ia turut berharap setelah alih status IAIN Jember menjadi Universitas Islam Negeri (UIN), KOMPAS akan lebih banyak menaungi mahasiswa dari fakultas lain.
KOMPAS juga memiliki beberapa program rutinan seperti kajian, pengamatan, open recruitment (oprec), KOMPAS mengajar (KOMEN), pengabdian masyarakat, serta festival tahunan. “Adapun yang kita laksanakan pada kegiatan Saat ini yaitu KOMEN (KOMPAS mengajar),” tambah Affan.
Di sisi lain, Tommy Maulana selaku Ketua KOMPAS menyebut bahwa KOMPAS fokus dalam bidang astronomi Islam. “Perlu diketahui, KOMPAS di sini hanya mengkaji Astronomi Islam bukan astronomi secara umum,” tegas Tommy.
Ilmu astronomi Islam memiliki beberapa sebutan seperti ilmu falak, ilmu hisab, dan lain-lain. Terkait perbedaannya, Ilmu Falak dan Ilmu Astronomi umum terletak pada objek serta kajiannya.
“Ilmu Falak hanya fokus pada tiga benda langit yaitu bulan, matahari, dan bumi. Tiga benda ini kemudian menjadi acuan dalam menentukan arah kiblat, masuknya waktu salat, melihat hilal, dan gerhana,” tutur Tommy yang juga Ketua Umum Pengurus Pondok Pesantren Mahasiswa Baitul Ilmi periode 2019/2020.
Pada dasarnya, hukum mempelajari ilmu falak adalah fardlu kifayah. Jika ada sebagian orang yang sudah mempelajarinya, maka kewajiban bagi sebagian yang lain gugur. Apalagi Ilmu Falak ini berhubungan dengan ibadah umat Islam,” pungkasnya.
Tidak hanya itu, peserta turut diajak keluar ruangan untuk melakukan pengamatan secara langsung. Jefry Albu Chory yang juga anggota KOMPAS dari Tadris IPA, menjelaskan tentang fungsi dan penggunaan teropong bintang, namun karena cuaca tidak mendukung lantaran mendung, para peserta tidak bisa mengamati matahari.
Beberapa alat lain juga dijelaskan dan dicoba oleh peserta seperti eclipse glasses dan waterpass. Antusias dari mereka dalam mengamati setiap penjelasan teman-teman Kompas sangat terlihat, karena bagi mereka pengamatan ini merupakan hal baru. “Malah baru lihat sekarang sama alatnya (red, teropong bintang),” ujar Nur Hayati, salah satu mahasantri Pondok Pesantren Asrama Baitul Ilmi.
Acara itu turut didukung penuh oleh Kepala Laboratorium Fakultas Syariah IAIN Jember, Abdul Jabar S.H,M.H., ia berharap agar KOMPAS semakin mendekatkan diri kepada masyarakat umum.
“Saya sangat mendukung kegiatan seperti ini, agar Tridarma Perguruan Tinggi bisa connect dengan masyarakat, karena di dalamnya juga ada pengabdian kepada masyarakat. Bagaimanapun ilmu tidak bisa dikonsumsi sendiri oleh mahasiswa, namun juga harus bermanfaat untuk masyarakat luas,” ujar Abdul Jabar saat diwawancarai via WhatsApp. Kemudian ia juga menghimbau agar kegiatan-kegiatan KOMPAS berikutnya terkoordinasi dengan baik serta sistematis dalam pelaksanaannya.
Reporter : Arinal Haq
Editor : M. Irwan Zamroni Ali



