MENEROPONG AKSI KAMPUS MERDEKA DI FAKULTAS SYARIAH
Wawancara eksklusif dilakukan bersama Prof. Dr. Kiai M. Noor Harisudin, M.Fil.I, selaku Dekan Fakultas Syariah IAIN Jember, Sekretaris Forum Dekan Fakultas Syariah dan Hukum PTKIN se-Indonesia dan Wasekjen PP ABPPTSI mengenai Deklarasi Fakultas Merdeka. Wawancara dilaksanakan pada tanggal 7 Juli 2020. Fakultas merdeka lahir setelah Mendikbud Nadhiem Makarim meluncurkan kebijakan ‘Kampus Merdeka’ pada tanggal 24 Januari 2020. Kebijakan ‘Kampus Merdeka’ sangat berpotensi untuk mengembangkan sumber daya manusia unggul dan tercepat. Tentu saja sebagai pengamalan long life education bahwa ilmu bisa kita dapatkan kapan saja dan dimana saja.
Untuk merealisasikan kebijakan tersebut, Dekan Fakultas Syariah IAIN Jember telah mendeklarasikan Fakultas Syariah sebagai ‘Fakultas Merdeka’. Berikut hasil wawancara online dari tim kami Siti Junita Media Center Fakultas Syariah dengan Dekan Fakultas Syariah Prof. Dr. Kiai M. Noor Harisudin, M.Fil.I
Mengapa harus ‘Fakultas Merdeka’ ?
Sesungguhnya kita meneruskan kebijakan ‘Kampus Merdeka’ Mendikbud, Nadhiem Makarim. Semangat Mas Nadhiem dalam ‘Kampus Merdeka’ adalah agar mahasiswa tidak terbelenggu dan hanya belajar pada prodinya. Mas Nadhiem mendorong mahasiswa untuk belajar dengan memberi kebebasan 3 semester atau setara bobot 60 SKS untuk belajar di prodi lain atau perguruan tinggi lain.
Saya setuju dengan cara berpikir mas Nadhiem, bahwa mahasiswa boleh belajar di luar prodinya. Tapi, keilmuan khususnya tetap harus ada. Misalnya kalau di fakultas kami (Syariah), expert di bidang ilmu Syariah dan Hukum. Oleh karena itu, selain perkuliahan di kelas, mahasiswa kami juga dikuatkan untuk ikut berbagai pelatihan seperti pelatihan hakim, pelatihan advokat, pelatihan notaris, pelatihan jaksa, pelatihan LO, dan pelatihan profesi hukum lainnya.
Fakultas Syariah senang jika semua alumninya 100% mendapat pekerjaan, tentu sesuai dengan kompetensinya masing-masing. Apalagi dalam tempo tidak sampai tiga bulan setelah lulus, mereka langsung bekerja di berbagai sektor kehidupan.
Maka dari itu, kami mempersilahkan mahasiswa untuk belajar ilmu lain yang mereka kehendaki. Misalnya entrepreneur, jurnalistik, organisasi, dan ketrampilan lain yang dibutuhkan masyarakat dan mereka ingin belajar tentang hal tersebut.
Nah, inilah yang ingin dibangun di fakultas. Secara kultur, Fakultas Syariah telah memberikan ruang ‘Kampus Merdeka’. Kegiatan-kegiatan dibuat bukan hanya untuk civitas Fakultas Syariah, namun juga untuk Fakultas lain atau Perguruan Tinggi lain.
Bagaimana awal mempraktikkan ‘Fakultas Merdeka’ ?
Sejak bulan Januari 2020, kita sudah mempraktikkan ‘Fakultas Merdeka’ terusan dari ‘Kampus Merdeka’. Waktu itu, kita mengadakan Diskusi Publik berjudul “Reformulasi Zakat; Dari Ibadah ke Mu’amalah”, bersama KH. Afifudin Muhajir, MA, Rois Syuriyah PBNU. Pesertanya selain dari Fakultas Syariah, juga dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Islam (FEBI), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) bahkan dari Universitas Jember (UNEJ). Karena tema ini dibutuhkan oleh berbagai kalangan. Termasuk Baznas dan Lembaga Amil Zakat yang ada di Jember. Acaranya bertempat di Aula VIP Lantai II Fakultas Syariah.
Sejak itu, kegiatan-kegiatan yang berorientasi ‘Kampus Merdeka’ kami lakukan. Misalnya pada bulan Februari 2020, kita juga mengadakan seminar Membangun Bisnis Startup bekerjasama dengan teman-teman muda kreatif yang punya startup, Kertaspedia. Bulan Maret, kita mengadakan intermediate journalism class, bukan hanya untuk mahasiswa Fakultas Syariah, namun juga fakultas lain bahkan Perguruan Tinggi lain. Bulan Juli 2020 ini, kita mendirikan Lembaga Training Mahasiswa (eLTRAIN) yang mengadakan seminar Bisnis Online. Semua itu mendukung apa yang saya sebut ‘Kampus Merdeka’ tersebut.
Bagaimana korelasi antara five core values dengan ‘Fakultas Merdeka’ ?
Ini selaras dengan five core values yang dikembangkan di Fakultas Syariah. Five core values yaitu integrity, innovation, self-development, respect dan team work. Kelima core values ini mendukung civitas akademika dengan Fakultas Merdeka dan menggapai visi Fakultas, yaitu “Unggul dan Inovatif dalam Pengkajian Ilmu Syariah dan Hukum Berwawasan Islam Nusantara Bereputasi Internasional pada tahun 2035” nanti.
Tahun 2035 adalah renstra yang ditetapkan oleh IAIN Jember. Sehingga, kita memberi tahapan untuk lima tahun lagi (2025) pada level Asia Tenggara, pada tahun 2030 level Asia dan pada tahun 2035 nanti level Internasional. Jadi, tahapan dan rancangan sudah kita detailkan demikian.
Program apa saja yang dirancang untuk meraih tujuan dari adanya ‘Fakultas Merdeka’?
Kami buat Media Center, untuk mahasiswa yang ingin belajar jurnalistik. Kami buat eLTRAEN (Lembaga Training Entrepreneur) bagi yang ingin belajar entrepreneur. Kami juga selalu berhubungan dengan KAFSYA (Keluarga Alumni Fakultas Syariah), LKBHI (Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum Islam) dan para stakeholder untuk memberi masukan terhadap keilmuan dan ketrampilan apa yang dibutuhkan dalam pelaksanaan ‘Kampus Merdeka’ dan ‘Fakultas Merdeka’. Jangan sampai, ilmu yang dipelajari mahasiswa tidak dibutuhkan di masyarakat. Ini langkah pada level kultur ‘Fakultas Merdeka’.
Sementara, pada level struktur, kita sedang merancang kurikulum ‘Fakultas Merdeka’ dimana mahasiswa boleh mengambil tiga semester di luar prodi atau perguruan tinggi yang lain. Mohon doa dan dukungan semua pihak agar berjalan maksimal dan sesuai dengan yang diharapkan
Apa langkah dalam mempertahankan esensi dari ‘Fakultas Merdeka’ agar terus konsisten melahirkan output SDM yang berkualitas ?
Saya yakin, ada yang belum terbiasa dengan cara ‘Fakultas Merdeka’ ini. Namun, perlahan semua akan sadar bahwa ‘Fakultas Merdeka’ adalah yang terbaik. Memberikan ruang yang luas pada mahasiswa untuk berkiprah di masyarakat dalam berbagai sektor kehidupan, meskipun prioritasnya di Fakultas Kami tetap berada dalam bidang Syariah dan Hukum. Kita akan terus melakukan sosialisasi, aksi dan evaluasi atas apa yang kita lakukan terkait dengan ‘Fakultas Merdeka’. Termasuk kita juga terus belajar pada kampus yang sudah maju seperti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UGM, UI, BINUS, Atmajaya, dan kampus maju lainnya.
Pada hakikatnya, pendidikan bukan hanya tanggung jawab satuan pendidikan. Dengan adanya kebijakan ‘Kampus Merdeka’ pendidikan bisa diampu bersama oleh berbagai asosiasi dan unsur masyarakat. Mas Nadhiem menyebutkan SDM yang ditempa dari mulai kuliah di Perguruan Tinggi sampai ke dunia nyata dalam membangun Indonesia itu sangat cepat.
Reporter: Siti Junita
Editor: M.Irwan Zamroni Ali



