MULTAZAM, CITA-CITANYA PENGUSAHA MALAH JADI PENGHULU KUA
Jika menelusuri jejak kesuksesan alumni Fakultas Syariah IAIN Jember seakan tiada habisnya. Setelah beberapa waktu lalu Tim Media Center Fakultas Syariah mengangkat beberapa profil alumni sukses mulai dari alumni yang menjadi Hakim Muda di salah satu Pengadilan Agama di Tidore, Direktur Pasca Sarjana IAIN Ponorogo, hingga salah satu Dosen di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Tentu sangat beragam profesi yang digeluti para alumni sukses Fakultas Syariah tersebut. Sepintas terlihat bahwa mereka hanya menggeluti bidang akademisi dan praktisi hukum saja, namun jangan salah ya teman-teman. Lulusan syariah juga tidak menutup kemungkinan untuk menjadi seorang Enterpreuner sebagaimana alumni Fakultas Syariah yang sukses dengan ternak sapinya di Kabupaten Bondowoso. Kali ini, kami akan mengangkat profil salah satu alumni sukses yang berprofesi sebagai penghulu di salah satu KUA Kecamatan di Kabupaten Jember.
Multazam lahir di Kabupaten Situbondo, 7 Maret 1978, atau 40 tahun silam. Ia kecil hidup dilingkungan orang tua yang taat beragama. Hal ini bisa dilihat dari riwayat pendidikan Multazam yang menghabiskan dunia pendidikannya di lingkungan yang berbasis Madrasah. Mulai dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Khairiyah lulus tahun 1993, kemudian di MTsN Situbondo lulus tahun 1997, dan MANPK/MAKN Jember lulus tahun 2000. Multazam lalu melanjutkan pendidikan jenjang strata satu (S1) di IAIN Jember (Dulu STAIN Jember) mengambil jurusan Muamalah (kini Hukum Ekonomi Syariah).
Multazam muda sembari melaksanakan kuliah ia juga sebagai karyawan Tata Usaha (TU) di MAN 1 Jember. Hal ini berawal pada semester 4 saat kuliah ia direkrut sebagai tenaga kependidikan di MAN 1 Jember. Mulai saat inilah ia harus pandai-pandai mengatur waktu antara kuliah dan mengabdi di MAN 1 Jember. Memang, dengan mengabdi, kita akan mendapatkan barokahnya ilmu. Dan itulah yang mungkin dirasakan seorang Multazam saat ini. Walaupun dengan kesibukan menjadi tenaga pendidik tidak menyurutkan tanggung jawab Multazam sebagai mahasiswa di IAIN Jember kala itu untuk menyelesaikan studinya.
Multazam pun tetap semangat berkuliah dan berhasil menyelesaikan studi S1 nya pada tahun 2005 di semester 9. Tentu rasa bahagia sangat dirasakan Multazam kala itu. Untuk menyempurnakan kebahagiaannya itu ia memutuskan untuk mempersunting Nurul Mila Khofifah untuk dijadikan pendamping hidup yang hingga kini memberikannya 3 buah hati. Lengkaplah rasa kebahagiaan Multazam kala itu.
Pengabdian Multazam terus berlanjut hingga akhirnya pada tahun 2009 ia mengikuti tes CPNS Kemenag Jember dengan mengambil formasi tenaga administrasi di MAN 1 Jember. Alhamdulillah berkat doa orang tua dan usaha, ia diterima sebagai ASN Kemenag Kabupaten Jember. Pengabdian sebagai abdi negara berlanjut ketika ia dimutasi ke KUA Tempurejo pada tahun 2012 hingga ia menjadi Penghulu di KUA Kaliwates.
Kini, Multazam adalah seorang ASN Kementerian Agama Kabupaten Jember yang menjadi penghulu di KUA Kecamatan Kaliwates. Multazam sekarang berbeda jauh dengan Multazam yang dulu. Kita mengenal Multazam sekarang adalah seorang yang sering diundang di suatu acara perkawinan dengan pakaian yang sangat rapi dengan pakaian andalan yakni berjas dan berpeci hitam. Ia bertugas menghalalkan pasangan yang tadinya masih haram. Hehe ya memang itulah tugas keseharian seorang ayah dari 3 orang anak ini,” Mengijabkan pengantin”, ujarnya dengan penuh gembira.
Walhasil, Multazam yang tiga bersaudara dari pasangan Misadin dan Numarsih adalah sosok penghulu sukses. Sebagaimana pandangan yang berlaku di masyarakat, bahwa anak pertama mempunyai beban untuk menjadi seorang yang sukses karena alasan untuk mengangkat derajat dan martabat orang tua. Hal ini kemudian dibuktikan oleh Multazam dengan kesuksesan yang diraihnya saat ini dengan menjadi Penghulu di KUA Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember. Tentu semua hal yang diraihnya saat ini bukanlah sebuah hal yang instan atau tiba-tiba saja terjadi, namun tentu banyak halangan dan rintangan yang telah dilalui Multazam.
“Kunci dari semua kesuksesan itu berada pada bagaimana kita tawadlu’ kepada semua guru-guru kita sehingga nilai barokah terus mengikuti jejak langkah kita. Sebenarnya saya tidak mempunyai cita-cita sebagai penghulu, namun lebih cenderung ke pengusaha, maka dari itu semasa kuliah ia mengambil jurusan Muamalah. Namun takdir ada pada Tuhan dan manusia tugasnya hannyalah berikhtiar”, katanya bercerita.
Di samping berprofesi sebagai Penghulu KUA, Multazam juga aktif di berbagai organisasi sosial dan kemasyarakatan, seperti halnya menjadi bendahara Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Jember tahun aktif 2019-2023, sekretaris Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) PCNU Jember tahun aktif 2019-2024, dan pada pilkada saat ini ia mengemban tugas sebagai kepala Panwascam Kecamatan Sumbersari. Tentu semangat untuk aktif di berbagai organisasi tidak baru-baru ini saja digeluti oleh Multazam. Semasa kuliah pun ia tercatat sebagai anggota di berbagai organisasi, mulai dari anggota PMII Rayon Syariah, dan pada tahun 2004 tergabung dalam JPPR (Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat).
KUA mempunyai tugas utama sebagai pencatat dan pengawas pernikahan di tingkat kecamatan. Di samping tugas utama tersebut, KUA juga mempunyai tugas untuk melakukan pelayanan kemasjidan dan bimbingan zakat infak dan wakaf. Tentu baik buruknya manajemen pengelolaan hal tersebut tergantung pada SDM pegawai yang mengelolanya. Manajemen tersebut akan berbeda di setiap KUA pada umumnya. Manajemen pengelolaan pelayanan kemasjidan dan bimbingan zakat infak dan wakaf yang ada di KUA Kecamatan Kaliwates juga terbilang sangat baik. Hal ini berkat kerja keras dari Multazam selaku abdi negara dan jajaran KUA Kecamatan Kaliwates yang lain.
“Pembinaan pengelolaan zakat, infaq, shadaqah di sini juga terbilang sangat baik. Hal ini dibuktikan dengan berhasilnya acara penyaluran 50 paket sembako pada warga yang terdampak wabah Covid-19 saat bulan Ramadhan kemarin dan kami bertindak sebagai koordinator. Dan saat ini, kami fokus kepada pembentukan UPZ (Unit Pengumpul Zakat) yang akan dikelola oleh KUA’, ujar Multazam rendah hati.
Dari sini dapat kita lihat bahwa semangat seorang Multazam dalam hal menjadi seorang yang bermanfaat bagi sesama tidak bisa dibatasi dengan jabatan saja. Melainkan lakukanlah apa saja yang sekiranya bisa mendatangkan sebuah kemanfaatan.
Ia berpesan kepada rekan-rekan yang masih menempuh pendidikan di Fakultas Syariah “Adik-adik agar senantiasa semangat dalam mengembangkan diri dan belajar seraya dibarengi dengan berdoa dan ikhtiar. Dan untuk Fakultas Syariah IAIN Jember yang saat ini akan bertransformasi menuju UIN KH Ahmad Shiddiq (UIN KHAS) diberi kelancaran dan kesuksesan untuk membuka program studi baru yakni S1 Ilmu Hukum dan Fakultas Syariah berubah menjadi Fakultas Syariah dan Hukum”, ujarnya sembari berdoa.
Reporter: Tommy Maulana
Editor : Moh. Abd. Rauf



