SELAMAT JALAN, DEKAN SYARIAH 2015-2019 YANG BERSAHAJA In Memoriam Dr. H. Sutrisno, RS, MHI.
Oleh: M. Noor Harisudin, Dekan Fakultas Syariah IAIN Jember
Rabu Subuh, 14 April 2021, jam 04.00, saya kaget mendengar kabar duka dari Ketua RW Perumahan Milenia Jember, Bapak Bahriar, bahwa bapak Haji Sutrisno RS meninggal dunia. Tepat jam 4 pagi saat imsak hari kedua Ramadlan 1442 H. Saya kaget karena malam Kamis, sms dari handphone beliau yang kebetulan dipegang putranya –Mas Holid-- mengatakan kondisi beliau (Haji Sutrisno) sudah agak lebih baik. Mas Holid sendiri kebetulan warga perumahan Milenia yang rumahnya bersebelahan dengan Ketua RW kami. Saya langsung konfirmasi ke Pak Bahriar memastikan info duka tersebut. Dan ternyata, innalillahi wainna ilaihi rajiun. Info meninggalnya beliau memang benar adanya. Saya berkali-kali mengucapkan istirja.
Pagi jam 5.15, saya dan istri langsung meluncur ke rumah duka di Jl. Karangmluwo Mangli Jember. Satu persatu, para pengunjung juga berdatangan. Meski jenazah baru sampai di rumah duka jam 5.30 pagi itu. Tangisan keluarga pun pecah ketika jenazah datang. Saya yang bersebelahan dengan Prof. Mahjudin, juga ikut meneteskan air mata. Teringat banyak kenangan manis bersama beliau sejak saya di Jember, 20 tahun yang silam. Setelah dimandikan dan dikafani, jam 8 pagi, jenazah Haji Sutrisno disholati bersama di Masjid Jihadul Muttaqin Karangmluwo Mangli Jember, masjid dimana beliau pernah menjadi Ketua Takmir masjid ini pada beberapa tahun yang silam. Ratusan pentakziah membludak memenuhi pemakaman Karangmluwo yang berjarak seratus meter dengan masjid Jihadul Muttaqin tersebut.
Haji Sutrisno---demikian para kolega memanggil--adalah dosen senior di IAIN Jember. Beliau dilahirkan pada 9 Pebruari 1959. Haji Sutrisno termasuk beberapa perintis Jurusan Syariah yang lahir pada tahun 1997. Beliau bersama Dr. KH. Saifudin Mujtaba memulai mendirikan Jurusan Syariah yang masih di bawah STAIN Jember. Dulu, awal-awal, Haji Sutrisno mendampingi Kiai Saifudin menjadi sekretaris Jurusan. Beliau malang melintang di Jurusan Syariah hingga akhirnya menjadi ketua Jurusan (2009-2015) dan Dekan Fakultas Syariah (2015-2019). Sejak tahun 2019, beliau menjadi anggota Senat IAIN Jember.
Di mata para kolega dosen, Haji Sutrisno adalah dosen penuh dedikasi. Meski sudah berumur tidak muda lagi, beliau memutuskan kuliah S3 di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Bersama Dr. KH. Saifudin Mujtaba dan Dr. Rafid Abas, Haji Sutrisno menyelesaikan kuliah pada tahun 2012 yang silam. Tentu di umur yang sudah diatas kepala lima, menjadi mahasiswa S3 –apalagi harus mondar-mandir Jember Surabaya--bukan hal yang mudah. Karena bukan hanya pikiran namun juga fisik yang harus dipersiapkan. S3-nya mengambil bidang Fiqh-Ushul Fiqh, bidang yang selama ini menjadi concern dan kepakaran beliau.
Haji Sutrisno adalah tipe tokoh yang sering mendorong bagi kalangan yang muda untuk tampil. Ketika beliau menjadi imam sholat misalnya, dosen yuniornya yang menjadi pembaca doanya. Tak segan, beliau sering mempersilahkan yang muda untuk memimpin doa istighosah, dan berceramah, meski para dosen muda kadang merasa sungkan dan segan kepadanya. Tapi, itulah beliau: tokoh senior yang menokohkan yunior sehingga banyak murid dan yuniornya menjadi tokoh besar di kemudian hari.
Pernah, suatu ketika, kami juga berdiskusi melaksanakan shalat istisqa’ (minta hujan). Saya bersama mas Choiri—salah seorang dosen muda Fakultas Syariah-- sudah siap membantu melaksanakan sholat istisqa’. Karena di Jember terjadi kemarau panjang, kami sepakat untuk melakukan sholat istisqa. Tempat, jam, acara dan mobilisasi mahasiswa untuk sholat sudah disiapkan. Sholat ini akhirnya batal dilaksanakan, karena hujan terlanjur turun meski ada pendapat yang mengatakan bahwa sholat istisqa’ boleh dilakukan untuk minta hujan pada daerah lain.
Di mata mahasiswa, Haji Sutrisno juga motivator untuk mempraktikan ajaran agama Islam. Mahasiswa Syariah sering diajak keliling dari masjid ke masjid untuk beri’tikaf dan sholat sunah mendekatkan pada Allah Swt. Kadang di Wuluhan, Jenggawah, Mayang, Puger, Arjasa dan daerah Jember lainnya. Saya pernah mendampingi beliau acara keliling masjid yang digabung dengan training kepemimpinan mahasiswa, tepatnya pada saat menjadi Kaprodi Hukum Tata Negara (HTN) merangkap Kaprodi Hukum Pidana Islam (HPI) pada tahun 2017 yang silam. Alhamdulillah, ada sekitar 20 mahasiswa yang dididik menjadi calon pemimpin masa depan melalui training kepemimpinan di masjid saat itu.
Demikian juga, setiap kali datang gerhana bulan dan matahari, beliau juga memotivasi saya untuk membiasakan sholat tersebut di masjid-masjid.”Biar umat terbiasa mempraktikkan sholat gerhana", ujarnya pada saya.
Sebagai motivator, tak bosan-bosannya beliau mengajak mahasiswa untuk sekedar sholat berjamaah di masjid Sunan Ampel. Bahkan, mahasiswa yang sedang menghadapnya, diminta untuk melakukan sholat dluha. “Saya tidak mau tanda tangan kalau mereka tidak sholat dluha dulu”, ujarnya pada suatu saat menceritakan pada saya sembari tertawa. Begitulah trik beliau agar mahasiswa tergerak menjalankan sholat dluha dan sholat sunah yang lain.
Haji Sutrisno adalah sosok dosen penyabar. Ketika mengajar ataupun berinteraksi dengan mahasiswa, sama sekali tidak pernah terdengar kemarahannya. Kalau ada sesuatu yang ia kurang berkenan, ia pasti hanya geleng-geleng kepala—sembari saya yakin, beliau terus mendoakan para mahasiswanya. Wajahnya yang teduh, bersahaja dan penyabar membuat keluarga Fakultas Syariah khususnya dan IAIN Jember umumnya merasa nyaman dan selalu dalam hubungan kekeluargaan dan keakraban.
Dua bulan yang silam, tepatnya 26 Pebruari 2021, beliau tiba-tiba WA saya. "Assalamualikum Wr. Wb. Prof. Dekan. Terkait usulan Guru Besar saya karena faktor kesehatan, saya mohon pada rektor agar dipending". Dalam SMS lanjutannya, beliau ingin pensiun di usia 65 tahun. Usulan Guru Besar yang sedang proses diminta beliau untuk dihentikan, karena menurut saya, beliau ingin fokus pada keluarga dan ibadah pada Allah SWT., serta Rabu Subuh 14 April ini juga menjadi jawabannya: Allah SWT berkenan memanggil beliau kehadirat-Nya terlebih dahulu.
Haji Sutrisno juga sosok pejuang. Bersama para alumni PGA Jember, beliau mendirikan pesantren tahfidz di Jalan Slawu Jember. Bahkan menjelang akhir hayatnya, beliau masih sempat bersedekah untuk anak-anak pondok selama sebulan. Kepada saya, beliau sering menceritakan tentang kompaknya teman seangkatannya dalam membangun dan mengelola Pesantren Tahfidz tersebut dengan penuh rasa bangga.
Jauh sebelumnya, perjuangannya di masyarakat juga dapat dilihat dengan aktifnya beliau menjadi Ketua takmir Masjid Sunan Ampel IAIN Jember dan Ketua Takmir Masjid Jihadul Muttaqin Karangmluwo Mangli Kaliwates Jember. Beliau juga aktif menjadi Wakil Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia Kaliwates Jember. Kiprahnya di luar IAIN terasa dengan banyaknya relasi beliau dengan berbagai elemen masyarakat baik di Jember maupun luar Jember. Insyaallah, semua perjuangannya dicatat oleh Allah Swt sebagai amal jariyahnya.
Kini, Haji Sutrisno telah berpulang ke haribaan-Nya di usia 62 tahun. Selamat jalan, Haji Sutrisno: kiai, dosen, guru, sahabat, dan bapak kita semua. Kami merasa sangat kehilangan. Kepergiannya membawa duka yang mendalam bagi kami. Namun, kami ikhlas karena sudah menjadi takdir-Nya. Dan kamipun siap berjuang meneruskan cita-citanya.
Ya ayyatuhan nafsul muthmainnah. Irji’i ila rabbbiki radliyatan mardliyah. Fadzkuli fi ibadi Wadkhuli jannati. Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah pada Tuhanmu dalam keadaan hati yang ridlo dan diridloi. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku. ***



