SULTHON UMAR, MULAI DARI PENGUSAHA HINGGA MENJADI KEPALA KUA
Hai sahabat Syariah, kali ini tim Media Center Fakultas Syariah akan kembali membahas salah satu alumni yang juga dapat menginspirasi kita semua. Nah, siapakah dia? Ia adalah sosok alumni Fakultas Syariah yang saat ini telah menjabat sebagai Kepala KUA di Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang.
Sulthon Umar adalah nama lengkapnya. Ia lahir di Kabupaten Lumajang, pada tanggal 3 Agustus 1977. Sulthon Umar—selanjutnya dipanggil Sulthon-- merupakan anak ke-6 dari 7 bersaudara dari keluarga sederhana KH. Mansur Umar dan Hj. Sa`diyah.
Ayah Sulthon yang juga pengasuh pesantren salaf Al-Fauzan di Lumajang, menjadikan diri Sulthon untuk menempuh pendidikannya di berbagai pesantren, seperti di MI Tarbiyatul Mubtadiin Lumajang, TMI Al-Amin Prenduen Sumenep, Pondok Miftahul Ulum Kewagean Pare Kediri, Pondok Pesantren Lirboyo, Pondok Pesantren Ploso Mojo Kediri, Pondok Pesantren Papar Kediri dan Pondok Pesantren Gedang Sewu.
Sulthon yang tinggal di Jln. Letkol Slamet Wardoyo No. 83 Labruk Lor Lumajang kini hidup bahagia bersama istri, Isyarotul Mu'allimah, S.Pd. dan 4 orang anak, yaitu Alya Maula Zabrina, Fawwaz Nararya Adhyastha, Qonita Faliha Hafsha dan Zun'an Lubabus Salathin.
Perjalanan pendidikan Sulthon sebagai seorang santri, tidak berhenti sampai di situ saja. Sulthon kemudian melanjutkan studi S-1 nya di STAIN Jember (sekarang IAIN Jember) pada bulan Maret 2000 dengan mengambil Program Studi Ahwalus Syakhsiyah (baca: Hukum Keluarga).
“Saya rasa ini akan menarik dan banyak tantangan keilmuan,” tutur Sulthon. Ia mengaku sangat senang melanjutkan kuliahnya di STAIN Jember kala itu. Selain tujuan utama untuk mencari ilmu dan menambah pengalaman, menurutnya Program Studi Ahwalus Syakhsiyah merupakan peluang yang dibutuhkan oleh masyarakat ataupun pemerintah.
Selain aktif di bangku kuliah, Sulthon juga aktif mengikuti beberapa organisasi Intra kampus. Ia pernah tercatat sebagai ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Fakultas Syariah (2002), kemudian sebagai Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Forum Mahasiswa Syariah se-Indonesia (FORMASI) pada tahun 2003 yang merupakan kepengurusan angkatan pertama.
Lulus secepat-cepatnya dan menjadi sarjana terbaik memang harapannya dari awal. Berkat usaha dan doa, akhirnya Sulthon lulus pada 2004 dan berhasil menempuh kuliah S1 selama 3,5 tahun.
Kuliah di STAIN Jember kala itu, Sulthon merasa dirinya sebagai mahasiswa yang umurnya sedikit lebih tua dari pada temannya yang lain, karena setelah lulus tingkat SLTA Sulthon tidak langsung melanjutkan kuliah, melainkan masih ‘nyantri’ di beberapa pesantren, karena hal inilah Sulthon menjadikannya sebagai motivasi untuk cepat lulus.
Setelah lulus dari STAIN Jember, Sulthon mendapat banyak tawaran beasiswa dari Departemen Agama Republik Indonesia, akan tetapi orang tuanya tidak setuju dan meminta Sulthon untuk melanjutkan warisan ayahnya berupa pondok pesantren.
“Lulus di STAIN Jember, alhamdulillah mendapatkan banyak peluang mulai tawaran beasiswa, profesi advokat hingga calon hakim (cakim) juga bisa saya raih kala itu,” ujar Sulthon ke Media Center. Restu kedua orang tua bagi Sulthon sangatlah berarti, ia lebih memilih menuruti permintaan kedua orang tuanya untuk melestarikan pesantren yang didirikan oleh ayahnya.
Akhirnya pada tahun 2004, Sulthon bekerja menjadi tenaga honorer di KUA Lumajang. Tidak hanya itu, Sulthon juga mempunyai jiwa entrepreneur (pengusaha). “Saya grosir snack dan roti, termasuk menjadi peternak ayam pedaging, hampir semua sektor saya geluti seperti bidang pertanian, perkebunan hingga perikanan,” jelas Sulthon. Menurutnya, semua peluang dari berbagai sektor harus kita raih.
“Rezeki itu tidak harus menjadi seorang PNS, menjadi wirausaha juga bisa menjadi pilihan,” tambah Sulthon. Ia mengaku pernah ingin berhenti menjadi tenaga honorer di KUA Lumajang, karena hasil dari wirausahanya sangat berkembang dan cukup untuk kebutuhan hidupnya. Namun karena keinginan kedua orang tuanya untuk menjadi seorang penghulu, Sulthon pun memutuskan untuk tetap lanjut bekerja di KUA Lumajang.
“Menjadi seorang honorer butuh keikhlasan karena gaji yang didapat tidaklah cukup,” kata Sulthon. Hanya rasa ikhlas dan pengabdian yang diutamakan, semua usaha yang telah dilakukan ia serahkan kepada Allah SWT.
Perjalanan Sulthon bekerja di KUA Lumajang tidak hanya berhenti sebagai tenaga honorer, ia kemudian diangkat sebagai staf KUA dan dilanjutkan sebagai penghulu. Hingga setelah 10 tahun menjadi penghulu, Sulthon akhirnya diangkat menjadi kepala KUA Kecamatan Gucialit pada tahun 2020.
Selama bekerja di KUA, ia banyak mendapatkan hal yang berkesan untuk hidupnya. “Saya banyak belajar untuk memiliki jiwa Nrimo Ing Pandum (jawa) artinya menerima apa yang diberikan, hingga kemudian Allah SWT menanamkan jiwa yang selama ini ia usahakan untuk dapat tertanam dan menumbuhkan sifat kekeluargaan antar pegawai,” tutur Sulthon.
Saat ini Sulthon sedang menjalankan studi S-2 nya di IAIN Jember dan akan segera menyandang gelar M.H nya. Dibalik kesuksesannya sebagai kepala KUA, ia berpesan dan memberikan motivasi kepada mahasiswa Fakultas Syariah untuk terus semangat.
“Belajarlah dengan tekun dan mandiri. Perbanyaklah riyadhoh dan memohon restu kedua orang tua,” ujar Sulthon menasehati adik-adik mahasiswa di Fakultas Syariah IAIN Jember.
Reporter : Dewi Nur Sinta
Editor : M. Irwan Zamroni Ali



