TAUSIYAH KEBANGSAAN DI UNWAHAS SEMARANG, DEKAN SYARIAH: BANGUN NASIONALISME DENGAN EMPATI DAN SOLUSI
Media Center- Sebagai komitmen untuk turut andil dalam keselamatan bangsa dari mewabahnya virus Covid-19, pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Wahid Hasyim Semarang Bidang Keagamaan menggelar Mujahadah dan Doa Keselamatan Bangsa Bersama Kader dan Alumni PMII Wahid Hasyim. Acara tersebut diselenggarakan secara virtual melalui Zoom Meeting pada Minggu malam pukul 19.30 WIB (11/07).
Turut hadir dalam acara tersebut yaitu Dr. K.H. Muh. Syifudin, M.A. selaku pengasuh PP Luhur Wahid Hasyim, Prof. Dr. K.H. Mudzakir Ali, M.A. selaku Rektor Unwahas dan juga Mabinkom, K.H. Amdjad al Hafidz, B.Sc., M.Pd. selaku Pembina Majelis Khidmah Asma UI Husna Pusat, Prof. Dr. M. Noor Harisudin, M.Fil.I. selaku Ketua Pengurus Pusat Asosiasi Dosen PMII, Adi Joko Purwanto, S.IP., M.A. selaku Ketua IKA PMII Wahid Hasyim, Nur Rois, M.Pd.I selaku Sekretaris Pengurus Pusat Asosiasi Dosen PMII, Roshifah Jauhari selaku Ketua PMII Komisariat Wahid Hasyim dan Siti Musyafaah selaku Ketua KOPRI Komisariat Wahid Hasyim.
Prof. Dr. M. Noor Harisudin, M.Fil.I mengungkap bahwa, dalam rangka mendukung peran dan kontribusi nyata perguruan tinggi dalam penanganan Covid 19 adalah melalui inovasi sebagai gerakan inisiatif kerja konkrit di masyarakat.
“Untuk memenangkan kompetisi, perguruan tinggi Nahdhatul Ulama harus terus berakselerasi dengan selalu memunculkan inovasi agar bisa menjadi contoh kepada yang lain, ”ujar Dekan Fakultas Syariah UIN KHAS Jember itu.
Dalam kesempatan itu, Prof Harisudin mengutip Firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 155 yang artinya: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
“Keadaan ini memanglah sebuah ujian, doa bersama adalah paripurna ikhtiar kita karena sekarang susah untuk memperbanyak aktivitas, ” ujarnya saat pemberian tausiyah.
Ditetapkannya kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sejak 3 juli 2021 hingga 20 Juli 2021 pada sebagian besar provinsi terutama Jawa dan Bali untuk tetap tinggal di rumah (stay at home), kerja dari rumah (work from home), dan belajar dari rumah (study at home) merupakan upaya dalam rangka mencegah penyebaran Covid 19 yang semakin masif beserta varian barunya.
“Di Negeri Jiran, keseluruhan wilayah di lockdown, jika ada masyarakat yang kelaparan akan dikibarkan bendera putih. Kemudian mahasiswa yang bertugas akan memberi makan kepada masyarakat yang membutuhkan itu, ” jelas Dewan Pakar ABP PTSI Jawa Timur itu.
Dengan itu, Nasionalisme di era ini penting dimiliki oleh Bangsa Indonesia terutama pergerakan mahasiswa demi keberlangsungan hidup bersama.
“Nasionalisme artinya membangun solidaritas antar sesama. Bangunlah Nasionalisme melalui empati dan solusi, bukan caci maki. Salah satunya melalui pengabdian kepada masyarakat dengan program edukasi covid-19, ” tuturnya.
Sejumlah rumah sakit di Indonesia mulai kesulitan persediaan oksigen saat pasien Covid-19 terus bertambah. Hal ini dimungkinkan karena pihak tertentu telah memanfaatkan pandemi sebagai lahan bisnis. “Mahasiswa harus menyuarakan bahwa jangan sampai pandemi ini dijadikan lahan bisnis, hal ini karena membludaknya pasien dan banyaknya tenaga medis yang terpapar, ”tambah Guru Besar UIN KHAS Jember itu.
Pada kesempatan yang sama, Prof Harisudin menyarankan agar standar Perguruan Tinggi baik dari kebersihan, kualitas berpikir dosen dan mahasiswanya harus tinggi.
“Bagaimana menjadi luar biasa, jika yang dilakukan masih biasa saja. Supaya tinggi standarnya harus lakukan inovasi dan pengembangan diri yang tak mengenal titik atau self development, ”ujarnya yang juga Ketua Umum Asosiasi Penulis dan Peneliti Islam Nusantara Seluruh Indonesia.
Dalam menyambut Indonesia Emas 2045, maka kontribusi dan disiplin ilmu harus segera disiapkan. Menurutnya, perdebatan bukan lagi dalam hal konsep tapi lebih fokus terhadap cara cepat merealisasikan inovasi itu.
“Bangsa tidak akan besar, jika tidak ada persatuan. Teruslah maju bergerak, aktif memberikan kontribusi dan banyak menghasilkan karya. Dengan begitu, Insya Allah akan cepat mencapai kemajuan yang tiada batas, ”pungkasnya.
Acara yang dimoderatori oleh Khabib Mustofa tersebut berlangsung khidmat dengan diakhiri pembacaan doa dan pemberian amalan ijazah oleh KH. Amdjad Al-Hafidz B.Sc,. M.Pd. sebagai Pembina Majelis Khidmah Asmaul Husna Pusat.
Reporter: Siti Junita
Editor: Nury Khoiril Jamil




