syariah@uinkhas.ac.id -

YAUMIL HIKMAH, KIPRAH PEREMPUAN PENYULUH AGAMA LEADER KAMPUNG SAKINAH

Home >Berita >YAUMIL HIKMAH, KIPRAH PEREMPUAN PENYULUH AGAMA LEADER KAMPUNG SAKINAH
Diposting : Selasa, 16 Jun 2020, 16:03:52 | Dilihat : 851 kali
YAUMIL HIKMAH, KIPRAH PEREMPUAN PENYULUH AGAMA LEADER KAMPUNG SAKINAH


Berpikir tentang kehidupan sama halnya berpikir mengisi kesempatan dalam hidup. Ingin menjadi apa, seperti apa, dan hidup bagaimana adalah sebuah pilihan dalam hidup yang harus dijalani. Tuhan menciptakan seluruh alam beserta isinya, nikmat berupa waktu, dan kesehatan adalah modal yang diberikan oleh-Nya. Namun itu saja tidak cukup sebab Tuhan hanya memberikan jalan-Nya kepada hamba yang mau berusaha.

Fakultas Syariah IAIN Jember adalah salah satu wadah yang memberi kesempatan bagi orang-orang yang sudah terpilih di dalamnya. Dengan harapan Fakultas Syariah IAIN Jember seperti bejana yang terus menerus diisi air yang berupa ilmu, yang nantinya apabila bejana itu penuh lalu akan meluap dan luapan itu akan memberi kebermanfaatan bagi masyarakat, nusa, bangsa, terkhusus agama. Hal ini sudah terbukti Fakultas Syariah IAIN Jember telah berhasil melahirkan alumni yang bermanfaat bagi masyarakat dan memiliki pribadi yang berakhlakul karimah.

Yaumil Hikmah Sy, S.HI kelahiran Jember 26 Juli 1978 RT 02 RW 03 Rowotengah Sumberbaru Jember adalah salah satu alumni yang mendapat keberuntungan karena menjadi orang yang terpilih dan merasakan langsung keberkahan ilmu saat kuliah di Fakultas Syariah IAIN Jember (dulu STAIN Jember ), khususnya di Program studi Al-Ahwal Al-Syakhsiyah (sekarang Hukum Keluarga Islam). Setelah menamatkan sekolahnya di bangku MAN 1 Jember, Emil sapaan akrabnya lalu melanjutkan pendidikan di IAIN Jember pada Tahun 1997 hingga mendapat gelar sarjananya pada Tahun 2002.

Dengan dukungan dari orang tua, Emil mengambil program studi Al-Ahwal Al-Syakhsiyah di Fakultas Syariah IAIN Jember sebagai program lanjutan education. Dalam keputusannya tersebut artinya, Emil memiliki tanggungan yang harus dipertanggung jawabkan. “Prinsip saya adalah istiqomah dalam sebuah pilihan dan berani mempertanggung jawabkan sebuah pilihan” ujarnya ketika dihubungi oleh salah anggota tim media center.

Menyandang status angkatan pertama di program studi Al-Ahwal Al-Syakhsiyah (sekarang Hukum Keluarga Islam) memiliki kesan tersendiri sebagai pencipta sejarah. Terlebih pada masa itu, jurusan Syariah adalah jurusan yang pertama dan baru ketika alih status dari IAIN Sunan Ampel Surabaya menjadi STAIN Jember yang dijadikan “uji coba” masa transisi. Namun berangkat dari keyakinan tentang Al-Ahwal Al-Syakhsiyah, Emil tetap istiqomah dalam pilihan meskipun pada saat itu dosen yang spesifikasi keilmuan Al-Ahwal Al-Syakhsiyah masih terbilang sedikit.

Seiring berjalannya waktu, ketika Emil menginjak semester 5 (sudah masuk spesifikasi keilmuan syariah) banyak temannya keluar dari Syariah karena jurusan ini dianggap tidak menjanjikan lapangan pekerjaan pada saat itu. Hal seperti ini tidak membuat Emil kendor. Semangat dan keyakinannya justru bertambah ketika mendapat dukungan dan motivasi dosen-dosen Syariah yang energik dan alim untuk tetap dengan pilihan pada jurusan Syariah.

Tidak hanya berkecimpung di dunia akademik saja. Emil juga berperan aktif di dalam dunia pergerakan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), UKSB (dulu KOMSI), Paduan Suara Mahasiswa (PSM), di Pramuka untuk intra kampusnya. “Kita sebagai mahasiswa tidak hanya berperan aktif dalam dunia akademik saja. Ilmu yang banyak yang saya dapatkan dalam organisasi ekstra khususnya PMII di antaranya adalah kepekaan sosial. Maksudnya sebagai mahasiswa kita harus mampu membaca potret keadaan sosial masyarakat. Yang kedua adalah terasah kemampuan kepemimpinan. Dan yang terakhir adalah tentang managerial.” ujarnya yang mengandung sebuah pesan.

Setelah mendapat gelar sarjananya pada Tahun 2002, Emil langsung membuat surat lamaran pekerjaan di KUA dan Bank Indonesia. Alhamdulillah keduanya membuahkan hasil yang baik dengan diterimanya kedua surat tersebut. Emil semula memilih Bank Indonesia untuk karier pertamanya. Namun, ketika Emil mendapat kesempatan interview sampai di Jakarta, ternyata gagal akibat terhalang dana. Walaupun demikian Emil tetap istiqomah untuk tidak berhenti sampai di sini, sampai akhirnya Emil memutuskan untuk mengambil kesempatan ke duanya yaitu sebagai tenaga honorer administrasi di KUA.

Berangkat dari pegawai honorer K2, Emil menuju perjalanan kariernya yang success. Untuk menjadi seperti sekarang ini, ia ternyata membutuhkan waktu yang cukup lama ketika berproses. Menjadi tenaga honorer selama 9 Tahun lamanya dan pada saat itu masih belum ada kebijakan dari pemerintah tentang K2, Emil sempat memutuskan kariernya tersebut dan memilih untuk menjadi seorang petani dan wiraswasta. Seorang sarjana pasti menjadi pusat perhatian penduduk atau masyarakat. Pendidikan tinggi dianggap tidak penting jika akhir dari kehidupannya sama dengan orang yang tidak menempuh pendidikan. Karena, dimata mereka, bertani adalah pekerjaan yang tergolong rendah.

Berkah dari kesabaran dan istiqomah serta berani bertanggung jawab dalam setiap pilihan akhirnya, Emil telah menerima SK CPNS pada Tahun 2014 setelah menjadi tenaga honorer sejak tahun 2004. Setelah bertahan 1 tahun lamanya Emil masih memiliki keinginan untuk mengembangkan disiplin ilmunya, sampai-sampai Emil memutuskan diri untuk keluar dari dalam KUA dan memilih menjadi seorang penyuluh Agama.

Walaupun sempat terbesit keinginan hati nuraninya menjadi seorang hakim perempuan, namun, Tuhan belum menakdirkannya. Emil tetap bersyukur atas ketetapan yang Tuhan berikan kepadanya dengan berbekal disiplin ilmu akademik dan dari ekstra kampus (PMII) yang Emil punya ternyata membuat dirinya lebih bersyukur karena bisa menerapkan disiplin ilmunya tersebut di KUA dan juga di penyuluh agama yang diterapkannya langsung kepada masyarakat.

 “Menjadi orang lapangan, dalam hal ini penyuluh agama adalah sebuah tantangan besar karena kita dituntut untuk mampu menghadapi masyarakat. Penyuluh Agama adalah garda terdepan dari Kementerian Agama yang menjadi corong Kemenag” tuturnya yang mengenalkan jenis pekerjaannya tersebut yang kini beliau telah menjadi seorang penyuluh agama yang mempunya 4 Tupoksi (Tugas, Pokok, dan Fungsi) yaitu Advokatif, Edukatif, Konsultatif dan Informatif. Tidak hanya itu, Emil juga mempunyai kelompok binaan Kampung Sakinah sebagai Leader di kelompok binaan tersebut dengan bekerja dibantu oleh penyuluh agama honorer sejumlah 8 orang dengan 8 Tupoksi. Tak disangka pula selain memiliki karier yang sangat baik Emil juga mendirikan Yayasan Wakaf Keluarga dengan beberapa guru honorer yang dikelolanya di bawah naungan Kemenag. Selain itu, Emil masih sempat juga bertani untuk memberdayakan masyarakat di sekitarnya.

Emil berpesan kepada adik-adik yang sedang menjalani proses studinya untuk berpandai-pandailah dalam berjejaring. Apalagi di zaman milenial ini masih banyak peluang lapangan pekerjaan untuk Fakultas Syariah. Adik-adik Fakultas Syariah juga harus pandai berenterpreneur. “Apalagi perkembangan yang luar biasa untuk Fakultas Syariah IAIN Jember yang harus siap menuju UIN. Sekarang Syariah sudah memiliki tenaga pendidik profesor, doktor, dan Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum Islam (LKBHI). Tinggal menambah jaringan riil di masyarakat yang kaitannya dengan status hukum masyarakat”, tutur Emil sekaligus menyampaikan kesannya.

Berangkat dari keistiqamahan dan berani bertanggung jawab atas segala pilihan, Emil mampu menebar semerbak wanginya Fakultas Syariah IAIN Jember. Tentu juga berkat dukungan dari seorang guru dan orang tua turut yang mengantarnya memetik buah kemanisan dari kesabarannya. “Dan kalo ingin menjadi orang luar biasa harus punya aktivitas yang luar biasa juga,” pungkasnya.

Dari sini cukup menjadi bukti bahwa Fakultas Syariah adalah bejana yang selalu ditetesi air berupa ilmu ketika isi bejana itu penuh lalu meluap tumpah, ternyata kebermanfaatan tidak hanya dirasakan masyarakat sekitar justru luber menjangkau untuk berbagai Instansi. Bahkan tumpahan tersebut yang berwujud alumni Syariah tersebar di seluruh Indonesia sampai mampu menembus keluar negeri menjadi dosen, hakim, panitera, advokat, TNI-Polri, DPR, penyuluh agama, wartawan, Bawaslu, KPU, guru dan profesi mulia lainnya. Ada juga sebagian dari mereka (alumni) menjadi pimpinan di berbagai lembaga, seperti direktur Pasca Sarjana, Sekretaris pengadilan Agama, Pimpinan Bank Mandiri Syariah, Pimpinan perguruan tinggi, Kepala Kemenag, Kepala KUA, Pengasuh Pondok Pesantren, dan lain sebagainya.

 

Reporter : Roingatunnasibah

Editor. : Moh. Abd. Rauf

Berita Terbaru

Kompetisi Skripsi Terbaik Fakultas Syariah : Wadah Peneliti Muda Berprestasi dan Inspirasi Bagi Seluruh Mahasiswa
22 Jan 2026By syariah
Dekan Wildani Hefni Paparkan Spesialisasi Prodi Hukum Bisnis Fakultas Syariah UIN KHAS Jember: Agribisnis Halal Berbasis Kearifan Lokal
21 Jan 2026By syariah
Membanggakan, Fakultas Syariah UIN KHAS Jember Jadi Fakultas Terbaik Penataan Kantor dan Lingkungan Ideal berbasis Ekoteologi
14 Jan 2026By syariah

Agenda

Informasi Terbaru

Belum ada Informasi Terbaru
;